GerbangIndonesia, Lotim – Aliansi Masyarakat Menggugat (ALARM) NTB, Lembaga Kajian Kebijakan dan Transparansi (LK2T) dan DPD Kasta Lotim menggelar hearing terkait pembangunan SPAM di Dusun Tutuk Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru di Gedung DPRD Lombok Timur, Rabu 2(2/7).

Aksi ini buntut dari pembangunan SPAM tersebut yang dinilai proyek gagal.

Ketua ALARM NTB, Arsa Ali Umar menegaskan, proyek pembuatan Spam yang ada di Desa Jerowaru itu dinilai sebagai proyek gagal. Sebab sampai saat ini belum terealisasikan walaupun bangunan tersebut sudah diserahterimakan kepada PDAM sebagai pengelolanya.

“Kenapa kami katakan ini proyek gagal, kalau ini proyek berhasil seharusnya hari ini sudah terealisasi. Tapi faktanya, ini hanya dibangun dan diserahterimakan kemudian akhirnya PDAM tidak mau memakai itu,” tuturnya.

Dikatakan, pembuatan SPAM tersebut seharusnya menjadi solusi untuk mengatasi kekeringan di daerah selatan Lombok Timur. Kendati demikian hingga saat ini SPAM tersebut tidak terealisasi bahkan tidak terpakai.

Lanjut Arsya, untuk pembuatan SPAM tersebut pemerintah sudah menggelontorkan dana sejumlah Rp 3,9 miliar. Namun nyatanya tidak bisa terpakai, sehingga ia berharap jika memang SPAM tersebut tidak bisa dipakai atau tidak bisa dimanfaatkan agar PDAM menyerahkan asset tersebut kepada Pemda.

“Kalau memang ini tidak bisa dipakai serahkan saja aset ini ke Pemda kemudian teman-teman PU kalau barang ini belum maksimal jangan buat ini sebagai tugu kegagalan Bupati di selatan dengan janji kekeringan. Kami juga harap jika memang kekurangan anggaran, silakan minta penambahan anggaran supaya ini tidak mubazir,” cetusnya.

Adapun jika hasil hearing ini tidak sesuai dengan harapan, maka pihaknya akan melanjutkannya ke ranah hukum. Sebab ia tidak ingin anggaran yang berjumlah Rp 3,9 miliar tersebut disia-siakan.

Menanggapi masalah tersebut Kepala Bidang Cipta Karya PUPR Lotim, Ma’arif mengatakan sudah melakukan beberapa kajian pada tahun 2018. Bahkan telah melakukan pengukuran terhadap  berapa kapasitas air yang akan didisribusikan ke daerah selatan, dan sejumlah 20 liter perdetik kapasitas air yang didistribusikan.

Sedangkan untuk masyarakat di kawasan Sekaroh Kecamatan Jerowaru, sumber air bersihnya dari sumur tutuk dengan kapasitas 5,3 liter perdetik. Sehingga itu dinilai sangat kecil dan sangat kurang  bagi masyarakat.

“Kami menganalisa membuat FID untuk penyaluran secara gravitasi, jika tidak menggunakan gravitasi biaya operasional sangat tinggi sehingga kami memutuskan untuk membuat tower setinggi 30 meter,” jawabnya. (gi03)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here