Nenek Yin merangkak ke depan rumahnya saat ditemui LKS Tambora, Kamis (20/5/2021). FOTO ISHAQ BADAWI/GERBANG INDONESIA

Sungguh malang nasib seorang nenek asal Dusun Karang Juli, Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Tanpa anak dan suami, dia masih bertahan hidup seorang diri. Bagaimana kisahnya, berikut ulasannya.

ISHAQ BAEDHOWI, DOMPU

Nenek Yin namanya, tinggal seorang diri dan harus survive dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Rumah reot yang ditinggalinya bak kandang ternak. Di kala panas, dia kepanasa. Begitu pun saat hujan mengguyur, dia kedinginan. Dia mengaku memilih tetap tinggal di gubuknya itu lantaran itu adalah rumah satu-satunya dengan halaman yang sudah ditanami beberapa pohon pisang.

“Dari hasil menjual pisang ini saya bertahan hidup. Semua saya kerjakan sendiri,” ungkap nenek 70 tahun itu.

Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Tambora, Kamis (20/5/2021) menyempatkan diri berkunjung ke rumah Nenek Yin. Saat dikunjungi dan ditanya perihal keadaannya, Nenek Yin bercerita sembari berurai air mata. Bagaimana tidak, selain hidup sendiri, ia juga harus menahan rasa sakit yang sudah dialami berbulan-bulan. Kakinya membengkak dan dibaluti kain, karena sudah terinveksi dan dikerumuni lalat. Dari keterangannya, awal mula sakit yang diderita akibat dari patokan ular.

Saat didapati pun dia sedang merangkak untuk menanak nasi tanpa menggunakan kompor gas. Dan seringkali, ia hanya makan dengan garam jika tidak ada tetangga atau kerabat yang mengantarkannya makanan.

Rumah Nenek Yin memiliki tiga ruangan. Semua ruangan beralaskan tanah. Ruang depan sebagi tempat memasak, kemudian ruang tengah dengan rak roboh terbuat dari kayu, dan ruang tidur berbalut kasur dan selembar karpet.

“Karpet itu diberikan tetangga,” ulas Nenek Yin.

Sementara di bagian samping rumahnya, adalah bak mandi terbuka dari pam desa. Nenek Yin kerap mengolah beras dengan tungku dan sudah tak tehitung ia makan hanya dengan garam.

Nenek Yin juga menceritakan saat di masa tua seperti saat itu, bukannya menikmati waktu dengan tenang bersama cucu dan keturunan. Ia sebelum menderita sakit yang sudah empat bulan diderita, ia juga membuat kasur untuk dijual. Ia tetap berjuang sendiri tanpa meminta belas asih dari tetangganya. Namun dengan kondisi seperti sekarang ia hampir putus asa menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

Sementara Boy Irawan, Ketua Lembaga Kesejahteran Sosial Tambora melakukan survei kepada Nenek Yin. Ia sangat berharap agar penyakit yang diderita bisa sembuh agar bisa beraktivitas dengan lancar meski di usia yang terkategori sangat renta.

Boy berharap agar semua elemen bergerak bersama untuk membantu Nenek Yin yang memang layak untuk diperhatikan. Terlepas dari tendensi apapun. Bukan semata-mata menyalahkan pemerintah. Namun yang paling penting, bagaimana sekarang kerjasama dan kepedulian kita bersama untuk membantu mengurangi derita Nenek Yin.

“Besar harapan saya agar pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten melalui dinas terkait untuk lebih memprioritaskan masyarakat yang Nenek Yin. Jika banyak lansia tidak dapat bantuan karena terkendala identitas, maka saya pikir mereka yang memiliki indentitas seharusnya akan dengan mudah mendapatkan bansos. Agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia benar-benar terealisasi,” kata Boy. (haq)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here