GerbangIndonesia, Mataram – Seorang gadis belia bernama Nuraini ramai diperbincangkan di media social. Hal ini setelah foto dirinya yang memegang secarik kertas viral. Dalam selembar kertas tersebut, gadis asal Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa tersebut berharap agar Presiden RI, Gubernur NTB, maupun Bupati Sumbawa mau membantu pengobatan tumor mata yang dialaminya.
“Assalamu’alaikum wb, kepada yang muliya bapak presiden jokowi dodo, kepada yang terhormat bapak gubernur NTB, kepada yang terhormat bapak bupati Sumbawa, saya ingin sembuh gantikan mata saya dengan mata kambing sekalipun. Saya Nuraini,” katanya dalam secarik kertas tersebut.
Profil Nuraini
Saat lahir ke dunia, kedua orangtua dan keluarganya mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena telah memberikan buah hati yang sangat lucu dan imut. Buah hati itu diberi nama Nuraini. Sebuah pilihan nama yang bagus dengan harapan semoga menjadi kebanggaan keluarga.
Saat berusia dua pekan, mata kanannya Nuraini nampak semacam goresan merah seperti urat bulu yang melentang pada bola matanya. Namun saat itu orangtuanya hanya menganggap hal sepele dan berharap segera sembuh dengan sendirinya.
Waktu terus berjalan, Nuraini pun tumbuh besar dan bermain sama teman-temannya dengan gembira. Namun suatu hari kegembiraan itu mulai pudar terlihat di wajah Nuraini diakibatkan sudah mulai terjadi kejanggalan di mata kanannya. Namun keluarganya tidak begitu memperhatikan walaupun sudah tahu, keluarga menganggap biasa saja dan tidak terjadi apa-apa.
Genap di usia 6 tahun Nuraini pun masuk sekolah di SDN 9 Labuhan Padi Desa Pukat Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa. Nuraini pun sekolah dengan rajin dan diselimuti rasa bahagia karena bisa bermain di sekolah dengan teman-temannya. Apapun permainannya Nuraini selalu ikut, walaupun dia tidak mau ikut dia selalu dibujuk sama teman-temannya agar dia ikut bermain. Selain dia anak baik, Nuraini juga memiliki keterampilan. Itu yang menyebabkan teman-temannya senang mengajak Nuraini bermain.
Beranjak naik kelas 2 sekolah dasar, tidak bisa dipungkiri begitu pun juga mata Nuraini semakin kelihatan mulai membesar. Nuraini pun sendiri tetap bermain seperti biasa. Tetap semangat dengan tiada beban sama sekali karena terasa mustahil di balik kegembiraan itu ada kemelut panjang yang akan menghampirinya. Setahun kemudian beranjak kelas 3 sekolah dasar, matanya semakin membesar cepat hingga keseharian yang awalnya ceria, kini sudah mulai terkikis oleh rasa malu dan mulai minder dari teman-temannya. Nuraini kala itu pun terpaksa bicara sama kepada Ibundanya, Patimah.
“Ibu, apakah mata saya ini tidak mau Ibu obati, sementara mata saudaraku yang lain normal Bu? Saya ingin seperti mereka dan sekarang saya malu sama teman-teman yang lain yang memiliki mata yang normal dan saya banyak dibully oleh teman-teman karena memiliki mata seperti ini,” ulas Nuaraini kala itu.
Saat itu ibunya menjawab dengan linangan airmata “Iya anakku, ibu akan berusaha untuk mengobatimu,” katanya.
Si ibupun terus berusaha dengan sekuat tenaga sampai pada akhirnya ibunya dapat mengumpulkan uang. Kemudian Nuraini berangkat ke RSUP NTB didampingi kedua orangtuanya.
Setelah diperiksa kata Dokter, orangtuanya pun baru mengetahui bahwa penyakit yang diderita anaknya adalah tumor. Namun sata itu pihak RSUD mengaku tidak bisa menangani Nuraini karena fasilitas yang tidak memadai. Pihak keluarga pun disarankan ke Denpasar untuk menjalani operasi lantaran di sana fasilitasnya lebih lengkap.
Sepulangnya dari RSUP, sebulan kemudian sang Ibu tiba-tiba terkena stroke berat selama dua tahun. Biaya pengobatan Nuraini pun terpaksa dialihkan kepada ibunya untuk membiayai kesembuhan ibunya. Namun tidak lama, akhirnya ibunya meninggal dunia. Meski sudah kehilangan ibunda tercinta, namun semangat Nuraini tetap semangat. Dia melanjutkan sekolahnya sampai ke jenjang SMP, tepatnya di SMPN 2 Utan dan saat ini dia sudah duduk di kelas tiga.
Keterampilan yang dia miliki menjadikan para gurunya memasukkan Nuraini ke group drumband. Namun di sana Nuraini semakin minder dan dibully hingga keluarga dengan berbagai ikhtiar melakukan pengobatan dari dukun ke dukun, sampai ke orang-orang pintar dilaluinya. Namun tidak membuahkan hasil.
Kemudian pada suatu hari keluarga Nuraini mendaftarkan dia melalui program Dinas Sosial yaitu BPJS. Sebulan kemudian Nuraini dipanggil untuk berangkat ke Surabaya untuk menjalani operasi tumor mata. Saat itu, Nuraini didampingi keluarga dan 1 orang pendamping dari perwakilan BPJS sendiri. Kurang lebih 1 bulan Nuraini dirawat. Saat pulang, hanya membawa obat-obatan dan perban putih yang menempel di matanya. Miris, setelah perban dibuka, keluarga hanya bisa menarik nafas panjang karena melihat keadaan mata Nuraini tidak ada perubahan sama sekali.
Nuraini semakin down dan sedih sampai saat ini Nuraini sering mengurung diri di kamar dengan keadaan tumor di matanya yang semakin hari semakin membesar. Sementara keluarga sudah tidak mampu lagi untuk membiayainya.
Nuraini terus berdoa kepada Allah SWT agar Allah mengirimkan para tentaranya dan orang-orang yang baik untuk membantu mengoperasi tumor matanya. (abi)
Editor: Lalu Habib Fadli








