GerbangIndonesia, Lotim – Seorang gadis asal lingkungan Sekar Anyar, Kelurah Sekerteja, Kecamatan Selong, Lombok Timur, Eli Saomaeni, 23 tahun mengidap tumor kulit di wajahnya sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD. Penyakit tumor kulit itu hampir menutupi sebagian wajahnya. Bahkan menutupi mata sebelah kanan yang berdampak pada penglihatannya.
Baca Juga: Optik Bersama Siapkan 100 Unit Kacamata Baca dan Minus Gratis, Ini Syaratnya..
Qoriatur Saumi, ibu Eli Saomaeni mengatakan, penyakit yang diderita putrinya itu sudah mendapatkan perawatan medis atau oprasi sudah tiga kali di Bali. Operasi pertama dilakukan sejak putrinya masih kelas empat SD, kemudian operasi kedua ketika putrinya kelas 5 SD.
“Operasi yang ke tiga tahun 2019 lalu, di Bali juga kita operasinya,” terangnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (27/1).
Diterangkannya, untuk biaya operasi selama menjalani perawatan di Bali, keluarga hanya mengandalkan kartu BPJS kesehatan dan beberapa bantuan dari beberapa donatur. Termasuk juga Pemkab Lotim, untuk biaya makan minum selama di Bali. Namun sejak operasi terakhir itu dirinya mengakui bahwa tidak pernah lagi menerima bantuan.
Setelah dilakukan operasi ketiga kalinya, tidak ada perubahan yang di alami oleh putrinya. Justru penyakit itu semakin menjadi-jadi hingga menutupi mata dan sebagian wajahnya.
“Malah semakin parah ini. Kalau dulu bisa dia kebuka matanya yang sebelah kanan ini, tapi sekarang sudah tertutup sedikit dia bisa melihat,” ucapnya.
Melihat kondisi putrinya yang semakin parah, dirinya ingin melakukan operasi yang kempat lagi sejak tahun akhir 2019 lalu, namun karena terkendala Covid-19 dan tidak adanya biaya sehingga operasi kempat belum bisa dilakukan sampai saat ini.
Perempuan yang kesehariannya menjadi tukang jahit itu pun berharap pemerintah daerah bisa membantu untuk proses percepatan operasi anaknya dan biaya makan minum selama di Bali nanti.
Sementara Eli Saomaen mengaku sudah lelah dengan penyakit yang ia derita selama ini. Dirinya juga berharap agar Pemkab Lotim bisa memberikan membantu biaya hidup selama di Bali ketika operasi nanti.
“Yang paling saya harapkan adalah segera operasi lagi, karena selama ini tidak ada lagi informasi yang kami dapatkan terkait kelanjutan operasi yang keempat ini. Makanya kami berharap sekali pemerintah bisa membantu proses operasi ini dan memberikan bantuan,” harapnya.
Sementara Lurah Sekerteja, Zulkifli menyampaiakan, pihaknya telah berkoordinasi bersama berbagai pihak untuk mencarikan biaya dan pengobatan. Termasuk mencari bantuan di Pemkab Lotim, sebagai biaya hidup selama di Bali nantinya.
“Kita sudah berkoordinasi dengan Baznas, Lasda dan beberapa relawan lainnya. Termasuk Pemkab Lotim. Pas operasi yang ketiga itu, kita yang ajukan bantuan dan dikasih Rp 4 juta oleh Pemkab sebagai biaya hidup di Bali,” katanya.
Saat ini, pihaknya juga tengah mencari bantuan kepada sejumlah pihak untuk melangsungkan operasi yang tertunda sejak tahun 2019 itu agar Eli segera tertangani.
Pantauan media ini, Kondisi keluarga Eli sangat memperihatikan. Eli dan tiga saudaranya bersama kedua orang tuanya tinggal di rumah berukuran 4×3 persegi dengan satu ruangan sakaligus dapur dan berdinding batoko setengah dan bedek.
Baca Juga: Waw… FC Barcelona Bakal Bikin Sekolah Bola di NTB, Begini Konsepnya..
Adapun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga tersebut hanya mengandalkan upah menjahit dan upah berburuh yang jumlahnya tidak menentu. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli







