
Gerbangindonesia, Lombok Utara – Ratusan anak di bawah umur di kategori usia 15 tahun ke bawah diklaim mengidap kelainan refraksi. Hal ini terungkap saat pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan (nakes) yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) di Kecamatan Tanjung, Senin (9/10).
Baca Juga: Beruntungnya! Bocah SD Dapat Undian Rumah, Event Jalan Sehat HUT PTAM Giri Menang ke-43
Kelainan refraksi tersebut merupakan gangguan mata yang disebabkan oleh berbagai faktor. Gadget merupakan salah satu unsure utama anak di Lombok Utara mengalami hal tersebut. Demikian diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Pengendalian Penyakit Dikes KLU Nyoman Sudiarta. Pihaknya menilai sebelum diketahui refraksi terlebih dahulu dilakukan skrining mata di Vision Center yang berlokasi di Puskesmas Kayangan.
“Dari hasil skrining tercatat 406 anak dibawah umur mengalami refraksi, dan ada sebagian orang dewasa juga katarak, glukoma, dan mengidap penyakit mata lainnya,” ungkapnya.
Dijelaskan, data tersebut masih bisa bertambah lantaran dari target sebanyak 231.000 orang yang dilakukan skrining baru sekitar 53 persen saja yang disasar. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, dirinya menilai trendnya cenderung meningkat yang mana tahun 2022 hasil refraksi diketahui sekitar 1.350 orang. Idealnya, aktivitas menggunakan gadget yang intens harus dikurangi karena mata anak cukup sensitif dan hal ini bisa menyebabkan penyakit mata sejenis ketika mereka dewasa nanti.
“Penyebabnya banyak hal, bisa terlalu dipaksa lakukan aktivitas pengelihatan dan gadget salah satu faktor. Makanya kita imbau orang tua supaya mengurangi,” jelasnya.
Dinas Kesehatan melalui pelatihan ini, mencoba mengupayakan deteksi dini dengan membentuk vision center (layanan mata terpusat) setidaknya di seluruh Puskesmas di Lombok Utara. Maklum saja, saat ini tidak banyak tenaga kesehatan yang fokus untuk penanganan penyakit mata. Dalam pelatihan ini juga didatangkan narasumber dari Dikes Provinsi NTB.
“Ada sekitar 32 orang kita berikan pelatihan yang terdiri dari perawat, sampai dokter. Harapannya kita siapkan dulu SDM baru kita bentuk vision center di semua Puskesmas. Ini untuk deteksi dini supaya bisa sedini mungkin kita tangani,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, dinas juga berupaya mengalangkan program dengan membagikan kacamata gratis pada masyarakat yang mengalami kelainan refraksi. Bekerjasama dengan melibatkan Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia, tujuannya bagi pengidap penyakit itu bisa diberi kacamata sebagaimana hasil deteksi entah minus ataupun plus dan lainnya. Terhadap vision center sendiri sangat dibutuhkan terlebih di wilayah yang jauh dari pusat kota seperti Kecamatan Bayan dan juga Pemenang.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Disebut Bakal Punya Kekuatan Besar Jika Didampingi Sosok Ini di Pilpres 2024
“Kedepan juga akan ada program pembagian kaca mata gratis libatkan persatuan dokter ahli mata indonesia, ini sudah jalan dibeberapa tempat kita setelah temukan baru kita buatkan sesuai dengan kebutuhan,” pungkasnya.(iko)
Editor: Lalu Habib Fadli






