GerbangIndonesia, Mataram – Di tengah tantangan ekonomi global dan kontraksi ekonomi daerah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tanda-tanda kebangkitan baru dari jantung Pulau Sumbawa. Adalah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) yang menjadi motor penggerak transformasi ekonomi melalui kombinasi inovasi teknologi tambang, program ESG progresif, dan proyek hilirisasi industri berkelanjutan.
Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen
Langkah besar ini bukan sekadar tentang menambang emas dan tembaga, melainkan tentang membangun ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan, dari energi, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Manajemen AMMAN menegaskan, strategi keberlanjutan mereka bertumpu pada empat pilar utama: pengembangan sumber daya manusia, pelestarian lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, dan penegakan etika bisnis. Empat pilar inilah yang menjadi arah bagi seluruh inovasi perusahaan.
Salah satu inovasi paling mencolok muncul dari reklamasi lahan pasca-tambang berbasis komunitas di Sumbawa Barat. Awalnya, perusahaan menggunakan jaring goni impor untuk mencegah erosi. Kini, masyarakat lokal berinovasi bersama AMMAN dengan bahan alami seperti sabut kelapa dan serat ijuk aren, yang diolah menjadi coconet dan ijuk blanket buatan tangan masyarakat setempat.
“Melalui program AMMAN ini, kami para ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat berarti,” tutur Fatimah, warga Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat beberapa waktu lalu.
Kartika Octaviana, VP Corporate Communications AMMAN juga menegaskan bahwa program ini bukan proyek jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan ekonomi pascatambang yang mandiri.
“Kami tidak hanya fokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga membangun kapasitas ekonomi lokal yang berkelanjutan, bahkan setelah masa operasional tambang berakhir,” ujarnya.
Hingga akhir 2024, 799,53 hektare lahan reklamasi telah ditanami dengan metode berbasis komunitas ini menjadi simbol sinergi antara teknologi, kearifan lokal, dan kemandirian ekonomi.
Kehadiran smelter AMMAN di Sumbawa Barat menjadi proyek strategis nasional yang digadang-gadang akan mengubah wajah industri NTB. Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, yang meninjau langsung lokasi smelter pada Maret 2025, menyebutnya sebagai “proyek masa depan NTB”.
“Kalau secara teknis segera bisa beroperasi penuh, by product dari smelter ini akan menghasilkan industri baru,” ujar Gubernur Iqbal kepada GerbangIndonesia, Senin (20/10/2025).
Ia menjelaskan, smelter tersebut dilengkapi power plant mandiri (self-sufficient), menjamin kemandirian energi dan keberlanjutan proses industri. Produk turunan seperti asam sulfat, silver, dan logam lainnya akan menjadi fondasi bagi industri kimia dan manufaktur lokal, mendorong NTB keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah.
Langkah Kementerian ESDM memberikan relaksasi ekspor konsentrat kepada AMMAN per 14 Oktober 2025, menjadi angin segar bagi ekonomi NTB yang sempat tertekan.
“Upaya bersama semua pihak, relaksasi ekspor itu sudah turun tanggal 14 (Oktober) kemarin,” ungkap Gubernur Iqbal.
Meski kuota ekspor belum diumumkan, izin sementara ini berlaku hingga smelter beroperasi maksimal. Relaksasi ini menjadi momentum penting untuk menyeimbangkan pemulihan ekonomi NTB, yang pada dua triwulan pertama 2025 mengalami kontraksi masing-masing -1,47 persen dan -0,82 persen.
Kepala BPS NTB, Wahyudin juga mengakui bahwa kontribusi sektor pertambangan sangat vital.
“Untuk mencapai target pertumbuhan 7 persen tahun ini, NTB membutuhkan dorongan pertumbuhan hingga 8 persen di sisa waktu. Dan sektor tambang memegang peran kunci di dalamnya,” jelasnya.
Antara Harapan dan Tantangan
Namun, keberlanjutan tak lepas dari pengawasan. Akademisi Budi Santoso dari Universitas Negeri Sumbawa mengingatkan perlunya transparansi dan mitigasi risiko lingkungan.
“Pembangunan tambang skala besar pasti memiliki risiko. Maka komitmen terhadap ESG dan pengawasan publik harus tetap kuat,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti Dr. Aisyah dari UIN Mataram mencatat dampak positif yang nyata di lapangan.
“Omzet UMKM binaan naik 50–100 persen, sementara pembangunan infrastruktur publik juga meningkat. Ini bukti bahwa keberadaan AMMAN membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.
Setelah sempat mengalami kontraksi ekonomi pada triwulan I dan II 2025, masing-masing minus 1,47 persen dan minus 0,82 persen, NTB kini berpeluang bangkit. Pemerintah Pusat akhirnya membuka relaksasi izin ekspor konsentrat bagi PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara.
Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal mengonfirmasi bahwa izin relaksasi ini diberikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 14 Oktober 2025.
“Alhamdulillah, itu atas upaya bersama semua pihak, relaksasi untuk ekspor konsentrat itu sudah turun tanggal 14 Oktober kemarin,” kata Gubernur Iqbal di Mataram, Jumat (17/10/2025).
“Sebelumnya kita bicarakan dengan semua menteri. Karena ini kepentingan kita supaya ekonomi NTB tidak mengalami kontraksi. Relaksasi ini menyelamatkan pertumbuhan ekonomi saja,” tambahnya.
Iqbal menegaskan bahwa kebijakan ekspor tersebut bersifat sementara dan terbatas, sambil menunggu smelter beroperasi secara penuh.
“Kami minta kepada Kementerian ESDM agar relaksasi ekspor dilakukan untuk jumlah tertentu dan waktu tertentu. Fokus utama tetap agar smelter segera maksimal dan ekonomi NTB pulih lebih cepat,” tegasnya.
Dengan kombinasi inovasi teknologi tambang, kebijakan hijau, dan relaksasi ekspor yang strategis, NTB kini berada di ambang transformasi besar. AMMAN bukan hanya menggali kekayaan bumi, tapi juga menambang masa depan baru bagi NTB sebuah masa depan yang berpijak pada hilirisasi, teknologi, dan keberlanjutan.
Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity
Dari tambang menuju industri, dari emas menuju ekonomi hijau, NTB bersiap menyongsong babak baru: era industri berbasis inovasi dan keberlanjutan. (tim)
Editor: Lalu Habib Fadli







