Penampilan siswa SMAN 2 Gerung di Alun-Alun Kota Gerung Lombok Barat, Sabtu malam (13/06/2025). FOTO LALU HABIB FADLI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lombok Barat – Alun-Alun Kota Gerung, Kabupaten Lombok Barat, mendadak riuh oleh petikan gambus, tabuhan jidur, dan alunan suling khas Sasak pada Sabtu malam (13/06/2026). Di bawah temaram lampu kota dalam kemeriahan acara Car Free Night (CFN), sekelompok remaja mengenakan pakaian adat Sasak tampak begitu fasih menghidupkan tradisi. Mereka adalah kelompok musik Cilokak dari SMA Negeri 2 Gerung (Smandaru).

Bagi Smandaru, penampilan di panggung terbuka Alun-Alun Kota Gerung ini menjadi catatan sejarah tersendiri sebagai debut atau penampilan perdana mereka di hadapan publik luas.

Suasana malam minggu yang biasanya diwarnai hiruk-pikuk modernitas, seketika berubah menjadi kental akan nuansa sakral dan kehangatan budaya lokal.

Perjalanan kelompok Cilokak Smandaru ini sebenarnya merupakan buah dari keteguhan yang panjang. Kelompok seni tradisional ini sudah mulai terbentuk sejak 2008 silam. Namun dalam perjalanannya, eksistensi mereka sering kali timbul tenggelam akibat keterbatasan sarana dan prasarana, terutama minimnya alat musik tradisional yang memadai.

Namun malam itu, keterbatasan tersebut seolah menguap begitu saja. Meski harus tampil dengan alat-alat musik seadanya, optimisme membara dari para siswa tidak luntur sedikit pun. Kelemahan fasilitas itu berhasil ditutupi oleh penjiwaan yang matang, tanpa sedikit pun mengurangi kesakralan dan kemurnian nuansa budaya Sasak yang mereka bawakan.

Langkah berani ini diambil atas dasar kesadaran kolektif bahwa budaya tradisional, khususnya musik cilokak, harus terus bergema sampai kapan pun dan tidak boleh tenggelam atau tergerus oleh derasnya arus budaya barat. Melalui wadah sekolah, para siswa dan guru berkomitmen untuk terus mengambil peran aktif dalam membumikan kembali budaya Sasak di tanah asalnya.

Kepala SMAN 2 Gerung, Lalu Gede Sumaryani, M.Pd., menjelaskan, kesempatan emas untuk tampil di Alun-Alun Lombok Barat ini bermula dari undangan resmi yang dilayangkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat pekan lalu. Menerima tantangan tersebut, para siswa langsung tancap gas menggelar latihan intensif di sekolah.

“Kerja keras dalam waktu singkat itu terbayar lunas lewat penampilan yang memukau dan maksimal di panggung CFN. Saya pribadi sangat terharu melihat penampilan mereka ditonton ratusan pejalan kaki di Car Free Night malam ini,” katanya bangga.

Kehadiran Cilokak Smandaru di tengah acara Car Free Night berhasil memikat hati para pengunjung yang memadati kawasan alun-alun. Salah seorang penonton asal Kediri, Lombok Barat, Lalu Bisma mengungkapkan rasa bangga dan antusiasmenya yang tinggi saat menyaksikan anak-anak muda tersebut beraksi.

“Masyarakat sangat antusias dan bangga melihatnya. Jujur, saat ini sudah sangat jarang kita bisa mendengarkan musik tradisional cilokak secara langsung di ruang publik, apalagi dikemas dalam acara resmi yang didukung dan diundang langsung oleh pemerintah daerah seperti ini,” katanya penuh apresiasi.

Dukungan moral dan spiritual juga mengalir deras dari internal sekolah. Ketua Komite SMA Negeri 2 Gerung, H. Lalu Sajim Sastrawan, memberikan pujian mendalam atas pencapaian dan kegigihan para siswa didik. Ia meminta agar keterbatasan yang ada saat ini tidak menjadi tembok penghalang untuk terus berkarya.

“Mantap, lanjutkan dan jangan pernah patah semangat!” cetus H. Lalu Sajim Sastrawan memberikan wejangan agar kelompok Cilokak Smandaru terus melangkah maju menjadi garda terdepan pelestari seni tradisi di Lombok Barat. (abi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here