Gerbangindonesia.co.id – LOMBOK TIMUR – Pemerintah pusat memperkuat pengembangan bawang putih di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas tersebut.

Penguatan sektor ini melibatkan pemerintah pusat, Polri, pemerintah daerah, hingga kelompok tani. Sembalun dipilih karena memiliki kondisi geografis yang dinilai ideal untuk budidaya bawang putih sekaligus mempunyai tradisi pertanian yang telah berlangsung lama.

Keseriusan pemerintah ditunjukkan dengan pengalokasian anggaran sebesar Rp55,65 miliar dari Kementerian Pertanian untuk mendukung pengembangan bawang putih di kawasan tersebut. Dana itu diarahkan untuk memperluas areal budidaya dan memperkuat kebutuhan sarana produksi petani.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ketersediaan benih menjadi salah satu persoalan yang harus segera ditangani apabila produksi nasional ingin ditingkatkan secara signifikan.

Pemerintah, kata dia, akan berupaya memenuhi kebutuhan benih melalui produksi dalam negeri. Namun, apabila pasokan lokal belum mencukupi, pemerintah akan mengambil langkah alternatif dengan mendatangkan benih dari luar negeri.

“Benih kami upaya untuk mendukung produksi. Kalau ketersediaan dalam negeri kurang, kami upayakan impor,” ujar Amran saat mengunjungi Sembalun, Rabu (19/8/2026).

Kebutuhan untuk meningkatkan produksi bawang putih memang cukup besar. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, produksi nasional saat ini baru berkisar 39 ribu hingga 40 ribu ton per tahun.

Angka itu masih terpaut jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 600 ribu ton setiap tahun. Akibatnya, Indonesia masih harus mengandalkan pasokan impor hingga sekitar 90-95 persen.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk memperkuat produksi dalam negeri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas kawasan tanam sekaligus meningkatkan produktivitas melalui penggunaan benih unggul dan pendampingan kepada petani.

Polri turut mengambil bagian dalam program tersebut. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan pihaknya ingin memastikan program penanaman yang dilakukan tahun ini menghasilkan peningkatan produksi yang konkret.

Menurutnya, Indonesia memiliki pengalaman dalam memenuhi kebutuhan bawang putih dari produksi sendiri. Karena itu, keberhasilan masa lalu tersebut diharapkan dapat kembali diwujudkan melalui kerja sama lintas sektor.

“Kita sama-sama tunjukkan kalau Indonesia bisa swasembada bawang putih kembali,” kata Listyo Sigit.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap dukungan pemerintah daerah, Kapolri menyerahkan pin emas kepada Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dan Bupati Lombok Timur Haerul Warisin.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian kegiatan tanam dan panen raya bawang putih di Sembalun yang turut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat.

Kakorbinmas Polri Irjen Pol Mardiono menjelaskan program percepatan tersebut dilaksanakan secara serentak di 14 Polda. Polri bertugas memperkuat koordinasi antara kelompok tani, Dinas Pertanian, dan pemerintah daerah.

NTB menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi terbesar. Dari pengembangan sekitar 120 hektare lahan, potensi produksi diperkirakan mencapai 1.200 ton.

Sementara di Sembalun, panen yang melibatkan sembilan kelompok tani menghasilkan sekitar 105 ton bawang putih. Kawasan tersebut memiliki estimasi potensi produksi hingga 150 ton.

Mardiono mengatakan pendampingan akan dilakukan secara berkelanjutan agar petani tidak hanya berhasil pada tahap tanam, tetapi juga mampu menjaga produktivitas hingga masa panen.

“Satgas akan terus melakukan pendampingan dan mengawal hingga panen dengan harapan bisa meningkatkan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Kapolda NTB Irjen Pol. R. Umar Kalingga menambahkan, pengembangan bawang putih di Sembalun sebenarnya telah dimulai sejak 2025. Program tersebut diawali dengan penanaman bersama kelompok tani pada lahan seluas 15 hektare.

Potensi lahan di kawasan Sembalun diperkirakan mencapai 604 hektare. Pengembangan terus diperluas melalui penanaman bertahap dengan dukungan berbagai pihak.

Jika produktivitas dapat dipertahankan pada kisaran 10 ton per hektare, kawasan tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan produksi dalam jumlah besar untuk mendukung kebutuhan daerah maupun nasional.

Petani juga mendapat bantuan berupa sarana dan prasarana pertanian. Dukungan tersebut mencakup pengelolaan lahan, peningkatan hasil produksi, pengendalian hama dan penyakit tanaman, hingga pembangunan gudang untuk menyimpan hasil panen.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai Sembalun memiliki keunggulan alam yang sulit ditemukan di banyak wilayah lain. Karakteristik dataran tinggi dengan suhu sejuk dan paparan sinar matahari yang cukup dianggap sangat sesuai untuk tanaman bawang putih.

Zulhas juga menyoroti pengalaman masyarakat Sembalun yang telah lama membudidayakan komoditas tersebut. Menurutnya, pengalaman petani akan semakin kuat apabila didukung teknologi, benih berkualitas, pupuk, serta fasilitas produksi yang memadai.

“Petani kita di Sembalun sudah berpengalaman turun-temurun. Dengan dukungan benih unggul dan pupuk dari pemerintah, saya yakin produksinya bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.

Program penanaman bawang putih tersebut merupakan bagian dari gerakan ketahanan pangan yang mencakup potensi lahan sekitar 2.593,1 hektare di 17 provinsi. Kegiatan di Sembalun juga dirangkaikan dengan panen bawang putih dan peresmian gudang ketahanan pangan Polri.

Pemerintah berharap pengembangan sentra produksi seperti Sembalun dapat menjadi pijakan untuk memperkecil kesenjangan antara kebutuhan dan produksi bawang putih nasional.

Jika seluruh dukungan berjalan konsisten, kawasan Sembalun berpeluang memainkan peran lebih besar dalam rantai pasok bawang putih Indonesia, sekaligus membantu membuka jalan menuju kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.(rdan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here