Kepala BPBD Lombok Utara saat menunjukkan miniatur tower tsunami. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Usai dibangun oleh World Bank beserta gedung pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana (Pusdalops), empat tower peringatan dini Tsunami yang ada di Lombok Utara membutuhkan pemeliharaan. Terlebih setelah aset tersebut diserahterimakan ke pemerintah daerah. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Bencana Penanggulangan Daerah (BPBD) KLU M. Zaldi Rahadian, Rabu (23/09/2026).

Menurutnya, empat tower tersebut setelah dibangun pada tahun 2025 lalu membutuhkan anggaran untuk dilakukan penembokan dan reparasi lainnya. Pasalnya, objek tower itu berada di tengah pemukiman masyarakat serta ada yang berada di lapangan. Sehingga pembangunan pagar dibutuhkan supaya tidak ada oknum yang tidak bertanggungjawab masuk ke area tersebut.

“Mestinya dibutuhkan minimal untuk tembok keliling karena misalnya di Gondang itu langsung tidak ada batas, ya cukup riskan,” ujarnya.

Tower tersebut sangat penting mengingat Lombok Utara merupakan daerah yang paling paran diguncang bencana gempa pada 2018 lalu. Terlebih daerah ini sangat dekat dengan kawasan pantai sehingga adanya Tower peringatan bisa memudahkan masyarakat ketika terjadinya bencana tsunami.

“Dari tahun kemarin kita sudah usulkan anggarannya, memang karena ini sudah jadi aset daerah maka jadi kewajiban kita untuk memelihara,” katanya.

Dalam prosesnya, Lombok Utara mengusulkan 9 titik pembangunan tower peringatan dini tsunami. Selain yang ada di empat lokasi sekarang yakni di Desa Gondang, Segara Katon, Sokong, dan Jenggala, BPBD juga mengusulkan di masing-masing Gili 1 unit dan wilayan Pemenang dan Bayan. Hanya saja, usulan direalisasikan secara bertahap.

“Tiga gili masing-masing 1 unit mengingat di sana rentan dan menjadi daerah kepulauan. Semua juga dilengkapi HT untuk memudahkan koordinasi di pusatnya di pusdslops ketika alarm di pencet maka akan berbuyi,” terangnya.

Keberadaan tower ini menjadi bagian dari mitigasi bencana yang lebih terstruktur. Sebelumnya, Bank Dunia juga telah memberikan dukungan melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Keluarga Siaga Bencana (Kencana).

KLU dipilih sebagai penerima bantuan karena berada di kawasan rawan dengan 11 potensi bencana. Ancaman gempa dari dua lempengan di bawah wilayah ini, termasuk potensi gempa megathrust sebagaimana disampaikan BNPB, menjadi alasan utama perlunya peningkatan kesiapsiagaan.

“Kita tidak tahu kapan bencana akan terjadi, itulah fungsinya alat ini agar masyarakat bisa bersiap-siap untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian harta benda,” tandasnya.(iko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here