GerbangIndonesia, Lotim – Sejumlah siswa dan guru di Kabupaten Lombok Timur mengeluhkan sekolah yang tak kunjung dibuka. Proses belajar mengajar secara luring dianggap tidak efektif. Selain itu dinilai membosankan.

Salah seorang guru di salah satu Yayasan Pendidikan di Kecamatan Masbagik, Widia Sahara mengatakan, selama ini ia dan guru lainnya menggelar belajar secara luring dengan mendatangi murid ke rumahnya. Namun hal tersebut dinilai tidak efektif dan membosankan.

“Kita suruh kumpul di salah satu rumah siswa untuk kita berikan materi, tapi ada aja yang tidak bisa ikut belajar,” ulas Widia.

Setiap Sabtu kata dia, biasanya anak-anak datang ke sekolah untuk mengumpulkan tugas-tugas yang sudah diberikan. Sehingga setiap hari Sabtu siswa masuk sekolah, walaupun hanya sekadar mengumpulkan tugas.

Lanjut Widia, biasanya saat mengumpulkan tugas di sekolah, para siswa sangat antusias datang pagi ke sekolah. Tidak seperti saat mengikuti belajar luring.

“Pagi-pagi mereka sudah datang ke sekolah, dengan memakai seragam sekolah lengkap. Kami dan siswa sudah rindu berat dengan suasana sekolah seperti dulu,” katanya.

Guru Mapel Matematika itu berharap agar pemerintah segera membuka sekolah reguler. Sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan seperti sediakala.

“Ini juga sebagai antisipasi agar siswa tidak sampai kawin. Seperti kasus siswa-siswa di sekolah lain,” harapnya.

Sementara salah seorang siswa, Purnia juga mengaku proses belajar secara luring sangat membosankan. Sebab lokasi belajar secara luring tidak menentu.

“Kita kan belajarnya tidak di satu tempat, tergantung kesepakatan teman-teman. Kadang hari ini di rumah saya, besok di rumah teman yang lain. Kadang lokasi jam pertama dan jam kedua juga beda lokasinya. Lebih baik kami sekolah seperti biasa kalau begini,” ungkap Purnia.

Lanjut Purnia, dirinya dan siswa lainnya juga sudah rindu dengan suasana sekolah, dan bertemu guru-guru. Dirinya berharap jika sekolah dibuka kembali seperti sediakala, walaupun harus menjalankan protokol kesehatan dan jam belajarnya dikurangi.

“Tidak apa kami sekolah walaupun sebentar, harus berjarak dan memakai masker, yang penting kami bisa sekolah lagi. Bisa ketemu sama guru-guru dan teman-teman,” tutupnya. (gi03)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here