GerbangIndonesia, Mataram – Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) NTB mengatakan, perusakan fasilitas negara yakni plang nama bandara internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) merupakan pelecehan terhadap aparat kepolisian. Pasalnya, oknum perusak fasilitas negara tersebut tidak mengindahkan peringatan aparat yang berada di lokasi.

“Dalam salah satu video yang beredar, aparat sudah memberikan penjelasan terhadap nama bandara ini, tapi tetap saja oknum tersebut berdebat dengan nada keras dan melakukan perusakan. Ini jelas pelecehan terhadap aparat kepolisian, memberikan kesan kepada publik seakan polisi tidak berdaya,” terang Ketua OIAA NTB, TGH Fauzan Zakaria Lc MSi.

Bandara BIZAM Lombok lanjut Fauzan, adalah salah satu aset Pemerintah Pusat. Sebagai pemilik aset melalui Kementerian Perhubungan memiliki hak untuk menetapkan nama daripada bandara tersebut.

Pemberian nama, lanjutnya, dengan nama salah seorang Ulama yang juga merupakan satu-satunya Pahlawan Nasional yang brasal dari NTB seyogyanya membuat masyarakat NTB merasa bangga dan bersyukur. Sebab faktanya dari zaman dahulu hingga sekarang masyarakat NTB adalah masyarakat religius mayoritas beragama Islam, yang memiliki tradisi sangat menghormati Ulama dan para Pahlawan.

Fauzan Zakaria melanjutkan, bahwa perusakan ini termasuk tindakan melanggar hukum sesuai dengan Pasal 170 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dari itu ia meminta pihak kepolisian untuk menjaga marwah satuan kepolisian dengan mengusut tuntas kasus ini hingga akar-akarnya.

“Bandara ini objek vital, mereka melakukan tindak pidana di depan aparat penegak hukum. Sudah diperingatkan dengan baik, tapi tidak dihiraukan, itu pelecehan terhadap kepolisian. Kami mendesak agar persoalan ini diusut tuntas hingga akar-akarnya,” pintanya.

Jika perusak fasilitas bandara tersebut tidak ditindak tegas, maka istitusi kepolisian khususnya wilayah hukum Polda NTB akan tercemar. Sebab Polda dianggap tidak berdaya melawan segelintir oknum yang tidak suka kedamaian di NTB.

Pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Islami Indonesia (APII) NTB ini juga meminta kepada para pihak untuk berhenti membuat gaduh, dan menerima apa yang menjadi keputusan Presiden ini.

“Kita fokus benahi diri kita khususnya pariwisata, karena bandara ini juga bagian dari sarana penunjang pariwisata. Jangan sampai gara-gara ini, kita lupa membenahi diri kita yang faktanya hingga hari ini masih memiliki segudang pekerjaan rumah di NTB,” gumamnya.

“Harusnya kita bangga punya pahlawan satu-satunya yang diakui Negara, ini merupakan penghargaan bagi warga NTB,” tutupnya.

Tindakan gerombolan oknum masyarakat tersebut, kata dia, tidak hanya telah merusak bagian dari objek vital negara tapi juga telah mlakukkan pelecehan dan tindakan kriminalisasi terhadap Ulama yang merupakan pewaris Nabi SAW dan juga sebagai pahlawan Nasional.

“Kami mengecam tindakan yang melanggar hukum dan sangat memalukan bagi masyarakat NTB itu dan akan mengawal proses hukumnya hingga tuntas. Kami juga tidak akan membiarkan Bumi NTB sebagai tempat pelecehan terhadap para Ulama manapun,” tegasnya.

“Kami tidak mungkin mampu membalas jasa para Ulama dan para pahlawan, maka setidakanya kami harus menjaga dengan segenap potensi yang kami miliki agar mereka tidak dilecehkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here