
GerbangIndonesia, Mataram – Sudah setahun lebih bisnis kedai kopi terdampak pandemi Covid-19. Pembatasan mobilitas manusia membuat penjualan produk menurun drastis. Tak ayal, bisnis yang mengandalkan konsumsi masyarakat ini harus memutar otak agar tetap bertahan.
Owner Wangi-Wangi Coffee, Qwadru P Wicaksono mengaku selama beberapa bulan ini bisnis kedai kopi mulai mengalami perbaikan. Dia berkaca pada varian kopi yang ia hasilkan.
“Ada menu baru memang sejak Covid-19 menerjang. Namanya Copi[D]-19,” kata Om Qwadru nama sapaannya, saat berbincang dengan GerbangIndonesia, Selasa malam (12/7).
Ia mengulas, pada awal pandemi mewabah di Lombok Maret 2020 lalu, ia sempat menutup usahanya selama tiga bulan yang berada di komplek Kafe Paradiso Kota Mataram. Namun dalam lamunannya, ia tetap memikirkan tentang kopi. Ya, kala itu ia berpikir keras bagaimana dengan usaha kopi yang ia lakoni tetap bertahan melawan arus Covid-19 yang semakin menjadi.
Baca Juga: Modus Bakal Dinikahi, Pira 21 Tahun Ganyang Pacar Sendiri
“Copi[D]-19 ini memiliki arti mendalam. Kopi[D] atau kopide dalam bahas Sasak artinya kopi anda. Sedangkan 19 itu artinya, dari 19 gram biji kopi bisa menghasilkan rasa yang sensasional,” tuturnya.
Biji kopi yang diolahnya pun tidak sembarangan. Setidaknya, terdapat tiga jenis kopi yang ia racik dengan tangan terampilnya. Mulai dari Arabica, Robusta dan Liberica. Sedangkan biji kopi ini hanya ditanam di bagian paling tinggi di Pulau Lombok yakni kawasan Sembalun Lombok Timur dengan ketinggian 1300 Mdpl.
“Semakin tinggi kopi ditanam, maka rasanya akan semakin enak, dan semakin tinggi pula kandungan antioksidannya. Nah, kalau antioksidannya tinggi, otomatis bisa menambah imun kita,” ceritanya.
Baca Juga:Kapal Tanker Pertamina Terbakar di Galangan PT MOS
Dengan kandungan dan cita rasa yang berbeda dengan kedai kopi lainnya, ia yakin pangsa pasar kopi miliknya akan terus bertahan. Meski wabah virus Corona masih mengancam, namun ia meyakini penikmat kopi tidak akan punah.
“Banyak orang belum paham arti dari minum kopi dan penikmat kopi. Kalau minum kopi, ya sekadar minum terus habis. Beda halnya dengan penikmat kopi. Kopi yang kita hasilkan, itu berbeda jauh. Dari baunya saja sudah beda, apalagi rasanya akan tetap lengket di mulut,” jelas pria murah senyum itu. (abi)
Editor: Lalu Habib Fadli








