Penjabat Sekda KLU Anding Duwi Cahyadi. FOTO ANGGER RICO/GERBANG INDONESIA



Gerbangindonesia, Lombok Utara – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lombok Utara (KLU) tak menutup peluang kemungkinan akan mempersilakan ritel modern sekelas Alfamart dan Indomaret masuk berinvestasi. Pasalnya, keberadaan ritel modern tersebut justru dirasa banyak menguntungkan masyarakat. Hal ini diungkapkan Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Utara Anding Duwi Cahyadi, Senin (24/1).

Baca Juga: Resmi Tersangka, Ustad Mizan Qudsiah Diamankan Polda NTB

Menurutnya, meski tak menutup peluang investasi ritel modern tersebut namun investasi juga tidak ujug-ujug akan direalisasikan. Pasalnya, dibutuhkan kajian lebih dulu serta komunikasi dengan pihak yang bersangkutan pun pada masyarakat. Terlebih, hingga saat ini stigma yang muncul masyarakat menolak ritel modern lantaran UKM kecil akan merugi jika Alfamart dan Indomaret tersebut masuk ke daerah.

“Scara pribadi Pak Bupati itu menginginkan (adanya Alfamart dan Indomaret) hanya saja masyarakat kita belum siap. Masih ada asumsi buruk ketika ada itu malah mematikan usaha masyarakat,” ungkapnya.

Dalam 5 tahun terkahir Lombok Utara sendiri merupakan daerah yang konsisten menolak keberadaan ritel modern. Sebagai gantinya, Pemda dalam kepemimpinan Bupati Najmul Akhyar membangun Bumdesmart yang saat ini justru belum berjalan lancar. Alih-alih dapat menjembatani kebutuhan masyarakat, BUMDes malah banyak yang bermasalah menyangkut penyertaan modal desa. Maka dari itu, dijelaskan Anding, dibutuhkan waktu untuk mengedukasi kembali masyarakat KLU.

“Pemerintah kita saat ini tidak saklek (menolak ritel modern). Tapi kita butuh waktu untuk sampaikan, sosialisasi ke masyarakat. Bupati memberikan kebijakan untuk di tiga gili,” jelasnya.

“Ini butuh kajian, mungkin ke depan akan kita coba satu kecamatan satu dulu. Apalagi dengan adanya ritel modern nampak ada perkembangan kota itu kelihatan,” imbuhnya.

Anding menilai, banyak keuntungan yang akan didapat jika ritel modern masuk ke Lombok Utara. Tidak saja dari sisi pendapatan daerah melalui izin, namun juga tenaga kerja kedua brand ritel tersebut akan menyerap warga lokal setempat. Belum lagi berbicara mengenai produk lokal UMKM yang bisa tercover masuk di ritel tersebut. Intinya, nanti semua akan kembali kepada masyarakat sebab masyarakat yang menilai keberadaan ritel ini menguntungkan atau justru merugikan.

“Ada saatnya nanti masyarakat bisa pahami. Karena masyarakat kita kan belum terbiasa belanja di ritel modern, apalagi ada image itu, namun untuk saat ini kita belum ada komunikasi kok dengan Alfamart dan Indomaret,” katanya.

Belakangan, Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan dengan mensubsidi minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu perliter. Hanya saja, subsidi itu cuma dapat diakses di sejumlah ritel modern. Dengan belum adanya ritel modern di Lombok Utara artinya masyarakat belum bisa mengakses subsidi tersebut. Menyangkut hal ini, Anding mengaku di Lombok Utara masih adem ayem warga tak meributkan hal itu. Kendati ia manggut setuju jika ke depan ritel modern di bangun di Lombok Utara.

Baca Juga: Resmi Tersangka, Ustad Mizan Qudsiah Diamankan Polda NTB

“Khusus di KLU adem ayem saja tidak terlalu ribut, kecuali yang mahal itu beras dan gas baru agak panik mungkin. Karena pengguna konsumsi minyak kemasan itu kalangan menengah ke atas. Dan kita belum rakor kaitan dengan ini,” pungkasnya. (iko)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here