Peserta sosialisasi Alishter saat mendengarkan pemateri. FOTO ANGGER RICO/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Sebanyak 100 Penyuluh Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mendapatkan pelatihan dari Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas (Alishter) tentang penggunaan pestisida terbatas pada pertanian. Sebagai pemegang pendaftaran dan produsen Pestisida Alishter dibentuk sebagai tindaklanjut koordinasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Industri Kimia Kementerian Perindustrian.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Disebut Bakal Punya Kekuatan Besar Jika Didampingi Sosok Ini di Pilpres 2024

“Kami dari aliansi memberikan edukasi kepada petugas penyuluh yang membidangi pertanian atau penyuluhnya tentang penggunaan Herbisida Terbatas Pakai,” ujar Safrizal direktur pelaksana Alisther, Senin (4/7).

Menurutnya, tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan bagaimana cara mengelola pestisida secara baik dan benar agar dampaknya terhadap pengguna dan lingkungan bisa di minimalisir. Agar apa yang dikuatirkan orang terkait dampak seperti keracunan, penggunaan pestisida yang tidak efektif bisa dikurangi. Terlebih, untuk upaya pengelolaan gulma terpadu serta pembangunan pertanian berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan petani di kabupaten Kota di seluruh Indonesia.

“Kami Alishter sebagai asosiasi yang menaungi 53 anggota untuk menyelenggarakan pelatihan secara bersama di 42 lokasi kabupten/kota di 21 provinsi tahun 2022 ini,” jelasnya.

“Alister terbentuk tahun 2015, kita baru mulai melaksanakan pelatihan tahun 2016, sampai dengan tahun 2021 kita sudah melaksanakan pelatihan di 28 provinsi 2032 kabupaten/kota,” tambah dia.

Dijelaskannya, Peraturan mentri nomor 43 tahun 2019 tentang pendaftaran pestisida itu mengamanatkan tentang penggunaan pastisida terbatas adalah orang yang sudah mengikuti pelatihan serta memiliki sertifikat. Inilah yang menjadi sasaran dari pelatihan yang dilaksnakan Alishter. Dengan aturan itu pelatihan bisa di seluruh indonesia.

Kendati, lanjutnya, sasaran utamanya itu selain untuk mendapatkan surat keterangan pelatihan sesuai dengan ketentuan per Undang-undangan, tujuannya juga memberikan edukasi untuk para petani, khususnya herbisida terbatas ataupun petugas.

Lebih lanjut dikatakannya, khusus KLU Alishter melakukan koodinasi dengan dinas yang membidangi Pertanian di Kabupaten/ Kota. Berbeda dengan per Mentan No 39 tahun 2019, pelatihan dengan KP3 Provinsi. Namun aturan terbaru itu koodinasinya langsung dengan Kabupaten/Kota.

“Untuk pelaksaan pelatihan ini bahwa kita Alsiter kita melakukan koordinasi dengan dinas pertanian. Target kita tentunya dalam kondisi pandemi ini yaitu 100 orang. Itu pesertanya bisa petani sebagian dan petugas sebagian. Materinya itu memberikan pemahaman kepada peserta bagaimana aturan apa sih yang mengatur tentang tatacara pestisida terbatas. Kemudian sanksi nya apabila terjadi penyimpangan pestisida secara umum seperti sanksi adminitrasi nya maupun pidanannya,” jelasnya.

“Kemudian bagaimana petani ini paham membaca label, karena ibarat kita membeli suatu produk, kita harus mengetahui kandungan apa yang terkandung dalam produk itu, terdaftar atau tidak maupun bagaimana cara penyimpanannya dan apa yanh harus dilakukan pada saat terjadi kecelakaan,” akunya.

Melalui pelatihan yang disebut materi kalibrasi, katanya, memberikn pengajaran kepada petani berapa jumlah yang disiapkan untuk satu luasan terkait kebutuhan kadarnya kemudian berap larutan pestisida yang disiapkan. Pestisida yang sudah terdaftar itu sudah pasti teruji mutunya teruji efektivitasnya dan tingkat keracunannya. Untuk jumlahnya terdata lebih dari 500 pestisida secara umum. Kalau untuk produk terbatas tidak sampai 100 karena untuk mendaftarkan produk ini cukup banyak prosedur yang harus dipenuhi.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Disebut Bakal Punya Kekuatan Besar Jika Didampingi Sosok Ini di Pilpres 2024

“Harapannya setelah melalui pelatihan ini outputnya masyarakay petani bisa memahami tujuan Alishter ini memberikan pemahaman tentang cara penggunaan hingga dampaknya dan sanksinya. Karena yang diutamakan dalam pelatihan ini adalah penyuluh PPT yang memilki binaan petani. Artinya semakin banyak binaannya semakin banyak yang paham,” tutupnya.(iko)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here