GerbangIndonesia, Lotim – Sejak memasuki musim hujan pada awal November, harga buah nanas di Kabupaten Lombok Timur anjlok. Imbasnya sejumlah petani dan penjual nanas merugi.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Salah seorang petani sekaligus pedagang nanas asal Desa Lendang Nangka Utara Kecamatan Masbagik, Inaq Firiah mengatakan, semenjak musim hujan ini banyak buah nanas yang mateng (busuk) sehingga hal itu juga salah satu faktor anjloknya harga nanas.
“Kalau bayak nanas yang mateng itu tanda-tanda harga nanas murah dan nanas lagi banjir,” bebernya saat ditemui di rumahnya, Jumat (18/11).
Harga nanas ukuran kelas 1, 2, 3 yang biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu 4 biji, kini dijual 6 – 7 biji per Rp 10 ribu. Sementara untuk ukuran yang sedang saat ini dijual dengan harga Rp 10 ribu per 15 biji. Sebelumnya dijual dengan harga 10 – 11 biji per Rp 10 ribu.
Sementara untuk buah nanas yang ukuran paling kecil atau unyil sebelumnya dijual dengan harga Rp 10 ribu per 20 biji buah nanas, kini dijual dengan harga Rp 10 ribu per 30 biji.
“Karena saat ini buah nanas lagi banjir tidak seperti bulan lalu. Kalau bulan lalu apalagi pas bulan maulid sulit kita temukan buah nanas yang masak, kalau sekarang hampir 80 persen buah nanas masak semua,” imbuhnya.
Selain faktor hujan faktor lain yang menyebakan anjloknya harga nanas ini juga dikarenakan saat ini sedang musim buah mangga. Sehingga buah nanas dinilai kalah saing dengan buah-buahan yang lain.
Dengan anjloknya harga nanas saat ini membuat para petani dan pengepul nanas merugi. Bahkan saat ini untuk balik modal saja sangat sulit apalagi untuk bisa mendapatkan keuntungan, ditambah lagi mahalnya biaya produksi nanas seperti mahalnya harga pupuk.
“Modal saja saat ini belum bisa balik apalagi keuntungan, mungkin sulit kita cari keuntungan saat ini. Kalau sebelumnya saya tidak pernah keluar berjualan biasanya saya jualan dirumah saja pembeli yang datang, tapi sekarang saya ke pasar untuk julan saking banyaknya nanas di gudang,” ujarnya.
Ia mengaku untuk pengolahan buah nanas menjadi produk-produk lain selama ini tidak pernah dilakukan, hal itu dikarenakan tidak adanya pemahaman akan hal itu sehingga ia lebih memilih untuk memasarkan langsung ke sejumlah pasar di Lombok dan luar daerah seperti Bali, Jawa dan Sumbawa.
Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB
“Tapi sekarang jarang kita kirim ke luar Daerah, paling jauh dikirim ke Mataram, Lombok Barat dan Lombok Tengah. Kami harap pemerintah bisa membantu kami. Kalau tidak bisa membantu pemasaran paling tidak harga pupuk bisa murah, kami dikasih subsidi seperti petani lainnya karena kami tidak pernah dapat subsidi speri petani padi dan jagung dan petani yang lain,” pungkasnya. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli







