GerbangIndonesia, Lotim – Tembolak (tudung saji, Red) adalah salah satu kerajinan tradisional Lombok yang sampai saat ini masih tetap eksis di pasaran meski di tengah menjamurnya tudung saji modern.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Sentral kerajinan ini bisa ditemukan di Desa Peresak, Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur. Hampir sebagian besar masyarakat Peresak menjadi pengerajin Tembolak. Sisanya menjadi buruh, petani, pedagang dan pegawai.
Muh. Nasir salah seorang pengrajin sekaligus pengepul kerajinan Tembolak asal Desa Peresak menceritakan, sejak tahun 1975 ia sudah lihai membuat Tembolaq. Meskipun diakuinya kerajinan ini biasanya dikerjakan oleh kaum perempuan namun ia tidak mau kalah untuk membuat Tembolak.
“Mungkin sudah lebih dari 50 tahun saya bergelut dengan Tembolak ini, sejak saya usia 12 tahun saya sudah bisa membuatnya. Karena dulu kan jarang kita bermain-main seperti anak-anak yang sekarang, jadi kebanyakan waktu kami gunakan untuk membantu orang tua sehingga dari sana saya bisa membuat kerajinan ini,” bebernya saat ditemui di tengah kesibukannya, Jumat (25/11).
Di usia yang tergolong sudah tua ini, tangan Nasir masih terlihat lihai dalam menjahit motif demi motif tembolak. Hal itu terlihat dengan banyaknya susunan tembolak yang tersusun rapi di teras rumahnya. Biasanya dalam membuat kerajinan ini, ia di bantu istri dan anak-anaknya. Adapun untuk bisa menyelesaikan 1 buah tembolak membutuhkan waktu 3-4 hari sampai siap dipasarkan.
Pahit manis menjadi seorang pengerajin Tembolak disebutnya sudah habis dilalui. Dimana puluhan tahun yang lalu ia harus memikul tembolaknya dengan berjalan kaki dengan menempuh puluhan Kilo meter berkeliling dari desa ke desa bahkan dari kecamatan ke kecamatan untuk dipasarkan. Belum lagi barang dagangannya harus di bawa pulang karena tidak habis terjual.
Tembolak ini diakuinya memiliki berbagai filosofi dan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh tuding saji moderen yang ada saat ini. Selain menjaga makana dari hinggapan serangga dan kotoran, kelebihan lain dari tembolak ialah aroma makanan tetap terjaga dan makanan tidak mudah basi jika ditutup dengan tembolak. Hal ini lah yang membuat kerajinan ini tetap eksis dan laku di pasaran di tengah menjamurnya tudung saji modern.
Dikatakan Nasir, sejak beberapa tahun lalu dirinya tidak lagi berkeliling memasarkan tebolak miliknya ke desa-desa. Namun saat ini ia lebih sering memasarkannya di Pasar Tradisional Paokmotong. Selain membuat sendiri dengan dibantu istri dan anak-anaknya ia juga membeli tembolak setengah jadi dari para pengrajin lainnya.
“Kita beli yang setengah jadi di pengerajin, nanti kami yang cet kemudian kita perbaiki mungkin ada yang kurang pas kemudian baru kita jual ke pasar,” ungkapnya.
Pada tahun 2020 lalu diakui menjadi tahun yang kelam baginya. Dimana pada saat Covid-19 melanda, penjualan Tembolak menurun drastis.
Pada tahun itu tembolak setengah jadi yang di beli dari pengerajin hampir memenuhi seluruh rumahnya hanya tersisa kamar tidur dan dapur saja. Sebab tahun itu tembolak tidak bisa laku, kalupun laku harganya sangat murah dari harga biasanya, sehingga hal itu membuanya mengalami kerugian sebesar Rp 15 juta lebih.
“Pada tahun itu saya sempat ingin membakar semua tembolak yang ada di rumah saya, jumlah tembolak yang terkumpul dan tidak bisa terjual itu sekitar 100 kudi 2.000.000 biji. Saya beli per kudi waktu itu dengan harga Rp 220 ribu yang setengah jadi, sehingga total modal dan biaya perkudi itu Rp 250 ribu. Tapi saya jual perkudinya waktu itu hanya Rp 150 ribu per kudi,” kisahnya.
Setelah Covid-19 mulai melandai khususnya di Kabupaten Lombok Timur, kerjainan tembolak berlahan-lahan mulai laku meski harganya belum stabil. Diakuinya pada tahun 2022 ini dirinya sudah mulai tersenyum dengan harga tembolak yang sudah stabil bahkan lebih mahal dari tahun-tahun sebelumnya.
Setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) ini, kerajinan Tembolak ini juga ikut naik hal itu dikarenakan ongkos dan biaya produksi yang ikut naik. Tembolak yang biasanya dijual dengan harga Rp 250 per kudi, sekarang bisa dijual dengan harga Rp 300 ribu per kudi untuk ukuran sedang. Sementara untuk ukuran kecil sebelumnya dijual dengan harga Rp 200 ribu perkudi, sekarang dijual Rp 250 perkudi. Sementara perbijinya dijual dengan kisaran harga Rp 15 ribu sampai Rp 50 ribu tergantung ukuran dan motif.
Terlebih pada bulan maulid lalu, tembolak diakuinya sangat laku, sehingga sepanjang bulan maulid ia bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 5 juta lebih, sementara pada hari biasnya hanya bisa mendapatkan keuntungan Rp 1,5 juta per bulan.
Adapun untuk bahan baku seperti daun duntal biasanya didatangkan dari daerah Kecamatan Peeinggabaya dan dibeli dengan harga Rp 100 ribu per 20 pelepah. Sementara dengan jumlah pelepah tersebut diakuinya bisa untuk membuat 60-70 biji Tembolak.
Selain beli sendiri, ia juga mengaku kerap diberikan bantuan oleh Pemerintah Desa Peresak sebagai bentuk dukungan dan perhatian pemerintah untuk para pengerajin tembolak.
“Sebelum Covid-19 itu saya juga pernah mendapatkan bantuan modal sebesar Rp 15 juta dari pemda Lotim dalam melalui Dinas Koprasi dan UMKM. Tapi modal itu habis pada saat Covid-19,” ungkapnya.
Dirinya berharap agar pemerintah bisa melestarikan tanaman duntal yang dijadikan sebagai bahan baku pembuatan tembok ini. Sebab menurutnya pohon duntal saat ini sudah sangat sedikit, sehingga dikhawatirkan jika tanaman duntal sudah tidak ada secara otomatis kerajinan tembolak ini juga akan punah.
“Pohon daun duntal ini sekarang sudah mulai langka, itu yang kami harapkan semoga pemerintah bisa menanamkan kami pohon itu agar tembolak ini tidak punah dan kami juga harap ada bantuan modal lagi dari pemerintah,” pungkasnya.
Sementara itu Kades Peresak Tahnuji mengatakan sebagi bentuk perhatian dan dukungan Pemdes terhadap para pengerajin, pihaknya memberikan bantuan pengadaan bahan baku daun duntal untuk para pengerajin yang diberikan kepada masing-masing kelompok.
“Sekitar 450 lebih masyarakat Peresak menjadi pengerajin tembolak, dan kami juga sudah buatkan mereka kelompok agar lebih mudah menyalurkan bantuan bahan baku,” sebutnya.
Selain diberikan bantuan bahan baku, para pengerajin juga dibuatkan tabungan di desa , dan akan dibagikan setiap setahun sekali saat bulan Ramadan atau menjelang Idul Fitri.
Naun pada tahun 2022 ini diakuinya tidak ada bantuan yang diberikan kepada para pengerajin hal itu karena terbentur dengan Anggra, namun ia berjanji pada tahun 2023 mendatang Pemdes kan menggrakan untuk pengadaan bahan baku.
“Insyaallah tahun 2023 kita akan anggarkan untuk pengadaan bahan baku. Tabungan itu juga tidak mesti jraus diambil saat mau lebaran saja, tapi bisa juga diambil kalau pengerajin tidak punya uang buat beli bahan baku,” ujarnya.
Sejauh ini Pemdes juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Diskop Lombok Timur, agar membantu para pengrajin dalam pemasaran danemberikan pelataihan untukengmvangkan kerajinan tembolak agar bisa lebih indah sehingga bisa sijula dengan harga yang lebih mahal dari yang sekarang.
Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB
“Sudah kami komunikasi dengan Diskop dan perdagangan agar para pengrajin ini bisa di ajari bagaimana cara menghias tembolak ini agar bisa lebih bagus lagi sehingga harganya itu bisa lebih mahal dari sekarang. Termasuk kami juga sudah cariin bantuan modal ke Pemda Lotim tapi belum ada jawaban sampai sekarang,” pungkas Tahnuji. (*)
Editor: Lalu Habib Fadli







