Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur H Pathurrahman. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Lombok Timur tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2021 lalu. Sejak bulan Januari hingga bulan November tahun 2022 ini tercatat sebanyak 621 kasus DBD di Lombok Timur. Sedangkan tahun 2021 tercatat sebanyak 480 kasus.

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

“Kenaikannya lumayan banyak dari tahun sebelumnya. Tapi jika kita melihat dengan jumlah penduduk kita yang 1,3 juta jiwa, angka ini kecil dari segi persentase,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, H Pathurrahman saat ditemui di ruangannya, Kamis (8/12).

Disebutkan, puncak kasus DBD pada tahun ini berada Pada bulan Oktober dengan jumlah kasus sebanyak 63 kasus. Kenaikan ini disebabkan karena pada bulan Oktober lalu bertepatan dengan mulainya musim penghujan.

Sementara pada bulan November hingga awal Desember ini kasus DBD di Lombok Timur tercatat sebanyak 39 kasus positif DBD. Dari jumlah pasien yang terkena DBD paling banyak ialah anak-anak yang berumur 16 tahun ke bawah.

“Pasien yang terkena DBD ini sebagiannya anak-anak yang usia 16 tahun ke bawah, sekitar 60 persen itu anak. Sisanya itu di atas 16 tahun,” ujarnya.

Daerah yang paling banyak ditemukannya kasus DBD ini tersebar di dua kecamatan yakni Kecamatan Selong dan Kecamatan Masbagik.

“Melihat kasus penyebaran kasus DBD ini, kita perlu meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat terkait pencegahan DBD. Pencegahan yang paling efesien dan paling murah itu ialah melakaukan 3M, yakni menguras, mengubur dan menutup tempat-tempat berkembangbiaknya nyamuk,” imbuhnya.

Menurutnya melakukan poging bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan permasasalahan DBD, dan fogging hanya akan efektif jika sudah dilakukan pembersihan. Ia menilai mengatasi DBD ini jauh lebih epektif dengan melakukan 3M dari pada fogging, sebab fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa saja.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Untuk itu kami mengimbau untuk kita sama-sama menghilangkan tempat bersarangnya nyamuk, seperti di genangan air seperti kaleng bekas, pot-pot bunga dan menguras bak mandi minimal 1 dalam seminggu karena nyamuk ini bisa berkembang biak selama 7 hari,” tutupnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here