
GerbangIndonesia, Lotim – Masyarakat Desa Kesik Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur kembali menggelar acara gawe adat Nunas Nede. Nunas Nede sendiri artinya meminta keberkahan dari Allah SWT.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Ritual Nunas Nede ini merupakan ritual masyarakat tani ketika menjelang musim tanam dan sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan Rahmat berupa hasil pertanian yang melimpah ruah.
Selain itu Nunas Nede ini juga merupakan ritual tolak bala untuk musim tanam berikutnya agar tanaman masyarakat terhindar dari berbagai penyakit dan serangan hama.
Kepala Desa Kesik, M Kadri menyampaikan 10 hari sebelumnya masyarakat setempat yang dikoordinir oleh para subak telah melakukan ritual doa bersama dan melakukan pembersihan di seluruh sumber mata air yang ada di Desa Kesik, sehingga ritual Nunas Nede ini merupakan hari puncak dari semua prosesi adat yang telah dilakukan sebelumnya.
“Hari ini adalah hari puncak dari seluruh prosesi yang telah kami lakukan yang di pusatkan di mata air Lingkok ratu atau Tirtaratu. Mata air ini sangat besar memberikan manfaat kepada masyarakat kami khususnya masyarakat tani,” ungkapnya dalam acara ritual adat Nunas Nede, Minggu (18/12).
Prosesi ritual Nunas Nede dimulai dengan pengambilan air dari mata air remetak yang sebelumnya dilakukan ritual doa bersama di atas mata air yang dipimpin oleh mangku desa setempat dengan membawa sesajen berupa hasil bumi.
Air yang diambil tersebut kemudian dibawa bersama dengan arak-arakan dulang dan hasil pertanian berupa beras, ubi, hewan ternak dan lainnya menuju Lingkok Ratu atau Tirta Ratu yang diiringi oleh musik tradisional gendang beleq, kemudian dihidangkan untuk dimakan bersama-sama dengan masyarakat dan tamu undangan.
“Nunas Nede artinya meminta keberkahan kepada Allah acara ini merupakan acara yang sudah turun temurun kami lakukan setiap tahunnya,” imbuhnya.
Selain untuk mengairi sawah para petani, mata air rametak ini juga menjadi sumber mata air bersih bagi masyarakat yang dikelola oleh desa melalui Pamdes. Pemdes Kesik juga saat ini tengah mengembangkan destinasi wisata di lokasi mata air Lingkok Ratu yang dinamakan dengan wisata Tirtaratu.
Mata air Tirta Ratu ini konon menurut cerita setempat adalah tempat putri ratu mandi, hal itu dikuatkan dengan adanya prasasti bekas kaki di atas batu yang ukurannya lebih besar daripada ukuran telapak kaki manusia pada umumnya.
Sementara itu Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy menyampaikan Kabupaten Lombok Timur memiliki berbagai ragam budaya dan adat istiadat yang sangat sakral yang dapat dibangggakan.
“Lotim memiliki berbagai adat yang sangat sakral bahkan di semua desa yang ada di Lotim memiliki budaya yang sangat sakral. Adat ini merupakan wujud pengabdian sang hamba kepada sang Khalik,” ungkapnya.
Selain daerah Utara, masyarakat Lombok Timur yang ada di daerah pesisir seperti di tanjung luar juga memiliki adat dengan melakukan ritual doa bersama dengan menyembelih hewan ternak kemudian dimakan secara bersama. Hal itu juga dilakukan sebagai rasa syukur atas limpahan Rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa.
Dirinya berharap destinasi wisata Tirtaratu tersebut kedepannya sudah rampung dan lebih baik lagi sehingga bisa menjadi salah satu roda penggerak perekonomian masyarakat setempat.
“Kalau menurut saya seharusnya namanya itu jangan dirubah menjadi Tirtaratu karena itu adalah bahasa luar. Biarkan saja dengan nama Lingkok ratu karena nama Lingkok itu adalah bahasa Lombok. Tapi kalau sudah terlanjur iya tidak dak apa-apa,” pintanya.
Ia menyebut di Lombok Timur banyak mata air yang saat ini sudah rusak karena habitatnya sudah rusak sehingga setiap musim hujan terjadi banjir dimana-mana karena tidak ada pohon yang menyimpan air.
Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB
“Padahal dulu di Lombok Timur tidak pernah terjadi banjir karena masih banyak pepohonan namun saat ini sudah tidak ada itu. Untuk itu kami berharap kepada masyarakat untuk merawat dan menanam pohon pelindung,” tandasnya. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli







