Kepala Dinas Sosial Lombok Timur, Suroto. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Jumlah keluarga miskin di Lombok Timur hingga awal tahun 2023 ini tercatat masih sekitar 370 ribu lebih atau sekitar 15 persen. Hal itu berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Dinas Sosial Lombok Timur.

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

Kepala Dinas Sosial Lombok Timur Suroto menyampaikan masih tingginya jumlah kemiskinan di Lombok Timur, salah satunya karena dampak dari Pandemi Covid-19 sejak dua tahun terakhir yang mengakibatkan bayak masyarakat kehilangan pekerjaan.

“Tapi kalau mengacu pada DTKS jumlah kemiskinan kita malah berkurang. Data kita dengan BPS beda, kalau kita kan kemiskinan yang masuk dalam program kemiskinan bansos, jadi kemiskinan ekstrim dan kemiskinan yang absolut itu berbeda, ungkap Suroto saat ditemui di Selong, Senin (2/1).

Dicontohkan keluarga miskin yang masuk dalam katagori desil satu itu merupakan keluarga miskin yang tergolong parah sehingga bisa mendapatkan berbagai macam program pengentasan kemiskinan seperti PKH, BPNT, BLT dan program lainnya.

Sementara kemiskinan yang masuk dalam katagori sedang hanya bisa mendapatkan satu jenis bantuan berupa bantuan modal usaha mengingat keluarga yang masuk dalam katagori ini orangnya masih dalam kategori muda sehingga masih mampu untuk bekerja.

“Jadi kalau berbicara orang miskin ini jangan dibayangkan semuanya sama. Jika yang miskin ini masuk dalam kategori desil 5,6,7 dan seterusnya itu maka dia hanya dapat bantuan usaha saja karena dia masih bIsa berusaha, makanya data itu beda-beda,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan data kemiskinan yang tercatat di DTKS pada tahun 2021 lalu jumlah kemiskinan di Lotim pada tahun 2022 lalu mengalami penurunan. Hal itu dikarenakan banyak masyarakat juga sudah mengundurkan diri dari DTKS.

Lebih jauh Suroto menyampaikan, bahwa saat ini dinsos juga tengah melakukan uji coba kepada 114 orang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk digeser tidak lagi mendapatkan bantuan PKH namun hanya diberikan modal usaha.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Jadi dengan keterampilan yang dimiliki oleh para muda-mudi ini kita akan geser, kita berikan bantuan modal dan tidak bisa lagi mendapatkan bantuan dari yang lain,” pungkasnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here