Gerbang Indonesia|Lombok Tengah – Perjalanan Reses anggota DPRD Loteng Dapil IV Nasarudin masa sidang II di titik ketiga kali ini cukup menegangkan.
Kali ini, secara khusus media Gerbang Indonesia diajak untuk mengunjungi Dusun Peko Desa Kateng Kecamatan Praya Barat. Lokasinya sekitar 20-an kilometer dari Desa Bonder sebagai asal anggota dewan dari Partai PAN ini.
Catatan kali ini, Gerbang Indonesia akan menggambarkan kondisi alam yang dilalui karena lokasi reses sendiri berada di ujung Timur Selatan Praya Barat dan ada di pegunungan.
Rombongan berangkat dari rumah Nasarudin sekitar pukul 13.00 Wita, bergerak ke arah Selatan kemudian berbelok ke arah Timur. Awal perjalanan memang mulus meskipun kondisi jalan ada yang berlubang. Hal itu merupakan hal biasa ditemukan di jalan aspal yang berada di tengah kampung.
Namun setelah 13 kilometer, perjalanan mulai menegangkan. Lebih masuk ke wilayah Pengembur yang sebenarnya merupakan wilayah Kecamatan Pujut, kondisi jalan mulai tidak bersahabat. Bukan hanya jalan yang belum diaspal, tetapi juga berlubang dalam yang menyebabkan sopir harus ekstra hati-hati. Taruhannya kendaraan bisa masuk jurang.
Sayangnya, kondisi itu ternyata belum seberapa. Di tengah kondisi cuaca ekstrem, perjalanan ke Dusun Peko ini cukup berat. Beberapa kali penumpang harus turun untuk ikut memastikan jalan di depannya akan bisa dilalui oleh mobil yang ditumpangi.
Beberapa batu di pinggir jalan harus diangkat bersama untuk menutupi jalan berlubang agar perjalanan bisa dilanjutkan. Anggota dewan yang diiringi pun tidak mau berpangku tangan. Dia terkadang beberapa kali harus ikut turun dan membantu.
Sesekali meminta mengambil dokumentasi untuk dijadikan laporan dan bahan diskusi bersama para pemangku kebijakan nantinya. Berharap agar kondisi warga di sekitar itu lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah nantinya.
Dalam perjalanan itu bisa dikatakan bertaruh nyawa. Betapa tidak, di tengah jalan terdapat kabel listrik besar milik PLN yang putus dan menghalangi badan jalan. Lokasinya di Tatal Peko. Wilayahnya sudah masuk dalam kekadusan Peko namun agak berada di kawasan luar.
Beberapa kali percikan api sempat terlihat meski tidak terlalu besar. Yang jelas itu berarti bahaya bagi masyarakat sekitar terutama pengguna jalan
Beruntung ada jalan yang masih bisa dilalui di sampingnya sehingga perjalanan masih bisa dilanjutkan. Tujuan utama masih sekitar satu kilometer lagi dari tempat itu.
Kondisi jalan yang dilalui masih sama. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Tak ayal kondisi ini memaksa rombongan harus berjalan kaki sejauh sekitar 500 meter menuju lokasi.
Masyarakat yang lalu lalang tampak sudah biasa, tidak luput juga saling tegur sapa dan bertukar salam dengan rombongan. Seolah ada harapan yang dibawa rombongan ini untuk perbaikan akses jalan mereka.
Dalam perjalanan itu sempat diprediksi bahwa jalanan rusak ini akan menjadi permintaan prioritas warga sekitar. Hal itu terbukti, begitu reses dimulai saat rombongan sampai pada pukul 15.13 Wita di Mushalla Hidayatul Muttaqin, warga serentak mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan hal lainnya selain perbaikan jalan.
“Hanya itu yang kami butuhkan,” ungkap H.Azmi selaku Kepala Wilayah setempat yang diamini ratusan masyarakat yang hadir.
“Kami akan upayakan dan kami sampaikan juga ke pemerintah mengenai kondisi ini,” janji Nasarudin sebagai anggota dewan yang sedang melaksanakan reses. (fiq)







