Oleh: Kamarudin, Ketua Asosiasi Pedagang Asongan NTB
Idul Fitri adalah momen kemenangan bagi umat Muslim setelah sebulan berpuasa. Namun, di balik kemeriahannya, ada potret kehidupan yang kerap terlupakan: para pedagang asongan yang tetap bekerja keras di tengah suasana Lebaran.
Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen
Keberadaan mereka di perempatan jalan, lampu merah, atau keramaian pusat perbelanjaan menjadi pengingat bahwa tidak semua orang bisa menikmati hari raya dengan tenang. Bagi sebagian, Idul Fitri justru menjadi waktu untuk mencari rizki ekstra demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Pedagang asongan adalah simbol ketahanan rakyat kecil di tengah tekanan ekonomi. Mereka menjual minuman, makanan ringan, atau aksesoris sederhana dengan penghasilan yang tak menentu. Di hari Lebaran, ketika banyak orang berkumpul dengan keluarga, para pedagang ini justru menghabiskan waktu di jalanan, berharap bisa membawa pulang rizki lebih banyak. Ini menunjukkan betapa kesenjangan ekonomi masih nyata, bahkan di hari yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Harapan untuk Gubernur Baru
Dengan bergantinya kepemimpinan di daerah, termasuk gubernur baru, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, ada harapan besar agar nasib pedagang kecil seperti asongan diperhatikan.
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:
• Pemberdayaan Ekonomi Mikro
Gubernur baru seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur besar, tetapi juga memberikan pelatihan dan modal usaha bagi pedagang kecil agar mereka bisa berkembang.
• Ruang Usaha yang Manusiawi
Alih-alih menertibkan dengan cara represif, pemerintah daerah bisa menyediakan lokasi khusus yang nyaman dan aman bagi pedagang asongan tanpa mengganggu ketertiban.
• Jaminan Sosial
Perlindungan seperti asuransi kesehatan atau bantuan tunai saat hari besar (termasuk Idul Fitri) akan sangat membantu meringankan beban mereka.
Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial. Gubernur baru memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar inklusif, tidak meninggalkan kelompok rentan seperti pedagang asongan. Dengan kebijakan yang pro-rakyat kecil, Lebaran tahun depan mungkin bisa dirayakan dengan lebih merata. Di mana semua lapisan masyarakat merasakan kebahagiaan yang sama.
Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity
Penutup
Keberadaan asongan di hari Idul Fitri adalah cermin ketidaksetaraan yang masih perlu diperbaiki. Semoga kepemimpinan baru membawa angin segar bagi para pedagang kecil, sehingga mereka tidak lagi harus memilih antara merayakan kemenangan atau mempertahankan hidup. Selamat Idul Fitri, semoga kebijakan ke depan lebih membumi dan berkeadilan. (*)
Editor: Lalu Habib Fadli






