
GerbangIndonesia, Lombok Timur – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terus mendorong pengembangan sektor pertanian, khususnya budidaya tanaman porang sebagai komoditas unggulan baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Upaya ini sejalan dengan program hilirisasi yang kini mulai diterapkan, guna meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal serta memperluas pasar ekspor.
Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen
Dalam mutasi perdana ini, Gubernur Lalu Iqbal
Menurut Lalu Alwan Wijaya, Sekretaris Dinas Perindustrian Kabupaten Lombok Timur, potensi budidaya porang di wilayahnya masih terbatas dan belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri secara mandiri.
“Data terakhir kami menunjukkan lahan porang di Lombok Timur hanya sekitar 28 hektare. Mungkin juga mencapai 281 hektare, tapi sebagian sudah tidak produktif. Jumlah itu jelas belum bisa memenuhi kebutuhan pabrik sebesar 80 ton per hari,” ungkap Alwan saat diwawancarai, Kamis (01/05/2025).
Untuk mengatasi keterbatasan pasokan bahan baku tersebut, Pemkab Lombok Timur menggandeng sejumlah daerah lain di NTB seperti Lombok Tengah, Lombok Utara, hingga Sumbawa. Bahkan, pihaknya telah mengirim surat kepada pemerintah provinsi untuk mendukung pasokan lintas kabupaten. “Jika digabungkan dengan kabupaten lain, target 80 ton bahan baku porang per hari bisa tercapai, bahkan bisa lebih, termasuk jika ada pasokan dari luar provinsi,” tambahnya.
Sebagai bentuk nyata dari hilirisasi industri porang, pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, yakni PT. Sanindo Pangan Rinjani, yang akan mengoperasikan pabrik pengolahan porang di Lombok Timur. “Kami sudah teken perjanjian kerja sama dengan Sanindo, mereka siap mengelola pabrik yang akan mulai aktif pekan depan. Jika bahan baku tersedia lancar, mereka bisa melakukan pengiriman hasil produksi hingga tiga kali dalam sebulan,” ujar Alwan.
Pabrik ini akan mengolah porang mentah menjadi tepung yang siap ekspor. Meski produk akhirnya masih berupa barang setengah jadi, namun nilai ekonominya cukup tinggi. Harga porang mentah kini mencapai Rp 8.000 per kilogram, melonjak drastis dibanding harga sebelumnya yang hanya berkisar Rp 2.500 hingga Rp 4.000 per kilogram.
Tepung porang hasil olahan tersebut memiliki beragam manfaat. Selain sebagai bahan pangan seperti beras porang, porang juga dapat dijadikan bahan kosmetik hingga obat-obatan.
“Kegunaan porang sangat luas, mulai dari pangan hingga farmasi. Bahkan untuk membuat kue pun, porang bisa digunakan sebagai bahan campuran tepung,” jelas Alwan.
Ia menambahkan bahwa produk yang dihasilkan dari pabrik akan dikirim ke Tiongkok, yang saat ini menjadi pasar utama porang dari Lombok Timur.
Meskipun belum sepenuhnya mampu mengolah seluruh hasil panen menjadi produk jadi di dalam negeri, Alwan menegaskan bahwa Lombok Timur telah memulai langkah penting dalam proses hilirisasi. Pihak PT. Sanindo Pangan Rinjani juga menyatakan kesiapannya untuk terus mendampingi para petani dan pelaku industri kecil menengah (IKM) dalam mengolah porang ke tahap yang lebih tinggi.
“Dengan pabrik ini, bahan baku yang sebelumnya dibawa keluar daerah kini bisa ditampung dan diolah di sini. Ini adalah bagian dari strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memperkuat posisi petani dan IKM dalam rantai pasok industri porang,” pungkasnya.
Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta membuka peluang lapangan kerja baru, sekaligus menjadikan Lombok Timur sebagai salah satu sentra industri porang nasional di masa mendatang. (*)
Editor: Lalu Habib Fadli





