BEM Nusantara NTB saat melakukan aksi demonstrasi beberapa waktu lalu. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Mataram – Pelaksanaan Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VIII yang digelar di Nusa Tenggara Barat menuai kritik tajam dari kalangan mahasiswa. BEM Nusantara Wilayah NTB menyatakan penolakan terhadap pemborosan anggaran rakyat yang dinilai tidak menjawab kebutuhan mendesak masyarakat NTB saat ini.

Dalam keterangannya kepada media, Koordinator Daerah (Korda) BEM Nusantara NTB, Abed Aljabiri Adnan, menyebut Fornas VIII sebagai ironi besar di tengah berbagai krisis yang masih menjerat daerah, seperti ketimpangan pendidikan, lonjakan harga kebutuhan pokok, serta kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang yang belum terselesaikan.

“Fornas di NTB bukanlah jawaban atas problem rakyat. Justru sebaliknya, ini menjadi panggung elite untuk mempertontonkan kemewahan dengan membakar anggaran miliaran rupiah,” tegas Abed Aljabiri.

Menurutnya, dana sekitar Rp 28 miliar yang teralokasi itu seharusnya dapat dialihkan untuk hal-hal yang lebih mendasar dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti Perbaikan sekolah rusak di Lombok, Sumbawa, dan Bima. Peningkatan layanan kesehatan primer di desa-desa terpencil. Dukungan ekonomi bagi petani, nelayan, dan UMKM lokal yang tengah bertahan di tengah kesulitan.

“Apakah rakyat diminta bersorak di tengah kelaparan? Apakah kami harus bertepuk tangan di atas fondasi anggaran yang tidak berpihak pada kebutuhan mendesak masyarakat?,” semprotnya.

BEM Nusantara NTB menegaskan bahwa pihaknya tidak anti terhadap olahraga atau kegiatan rekreasi, namun menolak keras jika hal tersebut dijadikan prioritas seremonial yang mengabaikan realitas kesenjangan sosial.

“Kami bukan musuh pemerintah. Kami hadir sebagai pengingat bahwa pembangunan harus berpihak pada rakyat, bukan pada panggung politik penuh kosmetik,” jelas Abed.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kontrol publik, BEM Nusantara NTB menyerukan kepada seluruh elemen mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, dan warga NTB untuk bersatu mengawal anggaran daerah. Seruan ini dilandasi semangat membangun NTB dari hal paling mendasar pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan keadilan lingkungan.

“BEM Nusantara NTB secara tegas menuntut transparansi serta evaluasi menyeluruh terhadap anggaran Fornas VIII, dan mendesak pemerintah provinsi untuk menempatkan kebutuhan rakyat di atas kepentingan pencitraan,” pungkasnya.(iko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here