GerbangIndonesia, Mataram – Gelaran Pameran dan Kontes Bonsai Nasional yang berlangsung di Teras Udayana, Kota Mataram, mencapai puncaknya pada Jumat, 22 Mei 2026. Mengusung konsep tanaman mini, ajang bergengsi yang diinisiasi oleh Kelompok Tani Bonsai The Max Indonesia ini sukses memamerkan ratusan karya seni hidup yang bernilai ekonomis tinggi sekaligus menjadi magnet baru bagi pariwisata urban.

Ketua Panitia sekaligus Ketua The Max 50cm Mataram, Ir. Rizaluddin Akbar memaparkan bahwa sebanyak 259 pohon bonsai terbaik dari berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian dalam kontes tahun ini.

“Tingginya partisipasi pameran ini membuktikan bahwa, tren bonsai mini kini tengah digandrungi secara nasional,” kata Rizaluddin bangga.

Momen penting terjadi ketika Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB, I Gusti Putu Milawati menyempatkan hadir di lokasi acara. Kehadirannya bertujuan menyerahkan langsung Sertifikat Hak Karya Cipta untuk single atau mars resmi “The Max 30cm Mataram” kepada Ir. Rizaluddin Akbar mewakili The Max 30cm Mataram.

Dalam arahannya, Milawati menekankan pentingnya mengubah pameran komunitas menjadi penggerak ekonomi riil masyarakat. Pameran tidak boleh sekadar menjadi tempat menonton, melainkan harus mampu menstimulasi transaksi jual-beli demi mendorong perputaran ekonomi dari level bawah. Menurutnya, kepedulian pembeli sangat penting agar masyarakat datang tidak hanya sekadar melihat lalu pulang, melainkan turut menghargai karya para perajin melalui transaksi nyata.

Sementara itu, Presiden Direktur Kelompok Tani Bonsai The Max Indonesia, I Made Suka, SH menjelaskan bahwa sistem penilaian dalam kontes nasional ini dilakukan secara sangat ketat. Tim juri membagi parameter penilaian ke dalam empat kriteria utama, yakni gerak dasar yang menilai anatomi pohon, penampilan untuk mengukur impresi estetika visual pertama, keserasian yang mengukur keseimbangan antara pohon dengan wadah potnya, serta kematangan untuk menilai detail penuaan tanaman agar menyerupai pohon asli di alam liar.

“Event ini ditargetkan mampu memasyarakatkan budidaya bonsai hingga 95 persen karena perawatannya yang relatif mudah dan efisien,” kata pria asal Bali.

Di samping itu, pameran kali ini memunculkan keunikan endemik lokal yang tidak dimiliki daerah lain seperti daerah lain di Indonesia. Sebut saja eksistensi Pohon Saeng Simbur Lombok (Lele Lombok).

“Masing-masing daerah memiliki endemik tersendiri. Termasuk Lombok. Kami harap dengan event ini bisa memupuk sekaligus merajut silaturahim antar pecinta bonsai di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Kesuksesan pameran ini juga sejalan dengan tren tata ruang modern. Di mana pilihan pada kategori ukuran kecil seperti tipe mame dan the max menjadi solusi cerdas dan elegan untuk menata pekarangan rumah yang sempit di area perkotaan. Mengingat ketersediaan lahan hunian yang kian terbatas, bonsai berukuran mini mampu memberikan sentuhan hijau yang mewah tanpa memerlukan ruang yang luas di pekarangan rumah.

Dukungan terhadap nilai sejarah dan pelestarian alam juga disuarakan oleh Pengerakse Agung Majelis Adat Sasak, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan. Ia sangat mengapresiasi pameran ini karena mampu membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kekayaan alam pasca-peristiwa geologis masa lalu.

Berdasarkan catatan sejarah kata Mamiq Sajim nama akrabnya, meletusnya Gunung Samalas pada abad ke-13 sempat memicu pergeseran magnet bumi serta mengubah lanskap vegetasi di Pulau Lombok. Sehingga kehadiran ruang pameran tanaman ini dinilai strategis dalam membangun kepekaan ekologis generasi muda.

“Jadi bukan hanya budaya, flora dan fauna Lombok dengan Bali, Jawa dan lainnya itu berbeda. Itu bagian dari sejarah yang harus kita edukasikan kepada anak-anak kita ke depan,” pesannya.

Berdasarkan hasil penilaian ketat tim juri yang diumumkan di lokasi pameran, deretan pemilik pohon yang berhasil meraih predikat terbaik di masing-masing kelas kompetisi juga telah resmi diumumkan.

Untuk Kelas Regional Mame dengan predikat Terbaik dari yang Terbaik atau Best of the Best berhasil diraih oleh jenis tanaman Sancang milik H. Lalu Fahrurrozi asal Kopang, Lombok Tengah.

Selanjutnya, penghargaan untuk kategori Terbaik Kelas Semi Regional Small disabet oleh jenis tanaman Sancang milik I Made Suartana asal Rincung, Lombok Barat.

Sementara itu, predikat Terbaik Kelas Prospect jatuh pada tanaman jenis Anting Putri milik Bagos Jonarindang asal Babakan, Kota Mataram.

Untuk kategori Terbaik Kelas The Max Plus Semi Regional berhasil diraih oleh tanaman jenis Santigi milik Adi Wijaya yang juga berasal dari Kota Mataram.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat dan nilai ekonomi yang tercipta sepanjang pameran, pihak panitia optimis geliat industri kreatif tanaman hias ini akan terus tumbuh berkembang pesat. Kelompok Tani Bonsai The Max Indonesia bahkan telah merancang target untuk kembali menggelar kontes dengan skala yang jauh lebih besar pada tahun mendatang. (abi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here