
Riuh rendah sorak-sorai di Sport Center Universitas Mataram (Unram) mendadak hening sejenak pada Jumat siang (26/06/2026). Di tengah terik matahari yang menyengat lapangan, sebuah momentum sakral bersiap mengambil alih perhatian ratusan pasang mata.
Bukan tiupan peluit tanda dimulainya laga, melainkan sebuah prosesi budaya penuh makna yang menyentuh relung sanubari setiap insan pers yang hadir: “Prosesi Penyatuan Air Kehidupan Sasambo”.
Suasana seketika berubah khidmat saat pembawa acara membacakan narasi pengantar dengan nada berwibawa. Sepuluh atlet perwakilan dari seluruh penjuru Nusa Tenggara Barat melangkah tegap memasuki arena. Di tangan mereka, tergenggam wadah berisi air yang diambil langsung dari sepuluh mata air suci yang tersebar dari ujung barat hingga ujung timur Bumi Gora, mulai dari mata air di Kota Mataram, melintasi Lombok, menyeberangi selat menuju tanah Samawa, hingga berujung di Kabupaten Bima.
Mata air tersebut memiliki riwayat, karakter, dan perjalanan yang berbeda-beda sebelum akhirnya tiba di Mataram. Namun siang itu, segala perbedaan asal-usul tersebut melebur tanpa sekat saat para atlet menuangkan air bawaan mereka secara perlahan ke dalam satu wadah penyatuan yang sama.
Masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo) adalah representasi dari keragaman adat dan budaya yang hidup berdampingan di NTB. Penyatuan air ini menjadi visualisasi paling puitis tentang bagaimana perbedaan latar belakang bukanlah pemisah, melainkan fondasi kokoh untuk bersama-sama membangun daerah.
“Prosesi ini sengaja kami hadirkan bukan sekadar sebagai pemanis acara. Melalui simbol penyatuan air dari seluruh penjuru daerah, kami ingin menyampaikan pesan filosofis bahwa meski jurnalis di NTB berasal dari latar belakang budaya dan media yang berbeda, kita semua bermuara pada satu tujuan yang sama, yakni merawat kebersamaan,” ungkap Koordinator Acara Porwada PWI NTB, Sukri Aruman.
Bagi insan pers yang sedang bertanding di Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) PWI NTB 2026, ritual budaya ini membawa pesan mendalam yang melampaui batas-batas olahraga. Ratusan jurnalis yang berkumpul di Mataram berasal dari berbagai media cetak, televisi, radio, hingga media siber, dengan sudut pandang yang sering kali berbeda dalam meramu berita sehari-hari.
Namun di arena Porwada, ego sektoral itu luruh. Mereka dipersatukan oleh satu komitmen yang sama: sportivitas, profesionalisme, dan pengabdian tanpa batas kepada masyarakat.
Sebagaimana sifat dasar air yang menjadi sumber kehidupan paling krusial bagi manusia, pers pun memikul tanggung jawab yang serupa.
Di tengah gempuran disrupsi digital dan tsunami informasi palsu (hoaks), kehadiran wartawan dituntut untuk menjadi laksana air kehidupan, sebagai sumber informasi yang jernih, menyejukkan dahaga publik akan kebenaran, serta membawa manfaat nyata bagi jalannya roda pembangunan.
Tepuk tangan bergemuruh memecah keheningan sesaat setelah tetes air terakhir dari sepuluh penjuru daerah itu menyatu sempurna dalam wadah tunggal. Air Kehidupan Sasambo telah resmi terpadu, mengirimkan getaran energi positif ke setiap sudut lapangan Sport Center Unram.
Penyatuan ini bukan sekadar simbol estetis dalam sebuah seremonial pembukaan. Ia adalah sebuah ikrar sunyi. Sebuah pengingat bahwa di balik pena yang tajam dan langkah kaki yang dinamis di lapangan olahraga, ada denyut nadi kebersamaan yang harus terus dijaga.
Melalui filosofi Air Kehidupan Sasambo yang mengalir jernih, semangat para jurnalis NTB diharapkan tetap membara. Semangat untuk menjaga persatuan, merawat sumber-sumber kehidupan alam, serta menjadi energi kolektif yang tak pernah lelah bersinergi demi mewujudkan cita-cita besar bersama, Nusa Tenggara Barat yang Makmur dan Mendunia. (*)






