GerbangIndonesia, Mataram — Dugaan kasus kekerasan yang terjadi di Cafe Djembank, Kota Mataram, kembali menjadi sorotan. Perkara yang mengakibatkan Graha harus menjalani perawatan di rumah sakit tersebut kini memunculkan dua versi keterangan berbeda antara Putu, yang mengaku sebagai saksi kunci sekaligus teman korban, dengan Putra, petugas keamanan yang disebut sebagai tersangka dalam perkara tersebut.
Putu mengaku melihat langsung sejumlah rangkaian kejadian sebelum hingga setelah Graha terjatuh di area sekitar cafe. Sementara Putra membantah melakukan pencekikan terhadap Graha dan menyebut tindakannya sebagai upaya mengamankan korban.
Menurut Putu, sebelum kejadian dirinya bersama sejumlah rekannya datang ke Cafe Djembank untuk menikmati hiburan malam. Ia sempat meninggalkan lokasi untuk pulang, kemudian kembali ke cafe.
“Pas saya balik lagi ke sana, saya melihat Graha sudah dicekik sama security. Dari situ kami langsung melerai dan bertanya kepada Graha, ‘Kamu kenapa sebenarnya? Ada masalah apa?’ Dia bilang tidak ada masalah,” ujar Putu, Selasa (1/9/2026).
Setelah situasi sempat dilerai, kata Putu, Graha kemudian mengajak teman-temannya meninggalkan lokasi.
“Graha bilang, ‘Ya sudah, kita pulang.’ Setelah itu kami jalan menuju parkiran,” katanya.
Namun, situasi kembali memanas ketika mereka berada di area parkir.
Menurut Putu, Naufal yang merupakan sahabat Graha kemudian datang dan merangkul korban. Security yang sebelumnya disebut mencekik Graha juga kembali mendatangi mereka.
“Pas sudah sampai parkiran, Naufal datang dan merangkul Graha. Lalu security yang tadi mencekik itu datang lagi. Mereka saling tantang,” ungkap Putu.
Ia mengaku mendengar ucapan dari pihak keamanan yang menurutnya bernada menantang.
“Waktu itu mereka saling tantang. Security itu sempat bilang, ‘Besok datang ke sini lagi,’” tuturnya.
Tak lama kemudian, menurut Putu, datang seseorang yang disebutnya bernama Panji, yang disebut sebagai orang Djembank.
Putu mengaku melihat Panji mendorong Naufal dan Graha ketika keduanya masih berada berdekatan.
“Saya lihat mereka didorong. Waktu saya mau naik motor, saya melihat dan langsung menghampiri. Saya tanya, ‘Sebab apa mereka kamu dorong?’” ujar Putu.
Putu kemudian mengaku dirinya ikut mengalami kekerasan setelah mempertanyakan tindakan tersebut.
“Langsung baju saya dijambak. Dia bilang, ‘Kamu tidak tahu saya siapa?’ Saya jawab, ‘Saya tidak peduli kamu siapa.’ Setelah itu saya langsung dikeroyok,” ungkapnya.
Ia menyebut dirinya dipukul dan diinjak oleh sejumlah orang. Putu memperkirakan terdapat sekitar lima hingga enam orang yang terlibat, meski ia mengaku hanya mengenali dua orang.
“Namanya Panji sama Arik. Mata saya sampai biru. Arik itu benar-benar saya lihat memukul mata saya,” katanya.
Setelah berhasil bangkit dari pengeroyokan, Putu mengaku melihat Graha sudah tergeletak.
“Setelah saya dikeroyok dan diinjak, saya bangun. Saat itu saya melihat Graha sudah tergeletak kejang-kejang. Setelah itu langsung kami bawa ke rumah sakit,” tuturnya.
Putra Bantah Cekik Graha
Berbeda dengan keterangan Putu, Putra membantah dirinya melakukan pencekikan terhadap Graha.
Menurut Putra, dirinya justru berusaha mengamankan Graha dan meminta yang bersangkutan meninggalkan lokasi.
“Saya mengamankan dia untuk menyuruh pulang. Setelah saya suruh pulang, dia menyerang saya dan saya refleks menghalangi,” ujar Putra.
Putra mengatakan, sebelum kejadian di luar cafe, keributan terlebih dahulu terjadi di dalam hall. Menurut versinya, persoalan bermula dari perselisihan yang berkaitan dengan dugaan gangguan terhadap istri Graha.
“Di hall dulu memang dia ribut dengan kawannya karena istrinya diganggu. Temannya satu meja dengan Nopal. Setelah itu dia memukul temannya,” jelasnya.
Putra kemudian mengaku mendatangi Graha dan meminta agar persoalan tidak dilanjutkan di dalam hall.
“Saya datang menghampiri dia. Saya suruh keluar. Kalau mau ribut, di luar,” katanya.
Ia secara tegas membantah adanya aksi saling cekik antara dirinya dengan Graha.
“Tidak ada saya saling cekik. Saya yang dicekik. Saya tidak melakukan cekikan kepada dia,” tegas Putra.
Setelah Graha diarahkan keluar, Putra mengaku masih berada di dalam hall. Ia kemudian keluar menuju area parkir untuk memastikan situasi tetap aman.
“Saya masih diam di dalam. Setelah itu saya keluar untuk mengamankan di parkiran, di luar, di jalan. Di sana saya suruh pulang lagi,” tuturnya.
Putra mengaku sempat meminta Graha pulang dan tidak melanjutkan persoalan.
“Saya bilang, sudah pulang. Besok jangan datang lagi ke sini,” katanya.
Namun, menurut Putra, situasi kembali memanas. Ia mengaku mendapat serangan dari Graha.
“Saya sudah menyuruh dia pulang. Begitu sudah di tengah jalan, saya diserang. Dia menendang, meloncat sambil menendang. Saya mengulurkan tangan,” ungkapnya.
Putra mengatakan gerakan tersebut membuat Graha terjatuh.
“Jatuhlah Graha. Bangun lagi, mau menyerang lagi, jatuh lagi,” katanya.
Ia menegaskan tidak bermaksud membuat Graha mengalami cedera serius.
“Saya hanya mengulurkan tangan karena refleks saat dia menyerang,” ujarnya.
Bantah Gunakan Benda Tumpul
Terkait informasi mengenai adanya benda tumpul dalam kejadian tersebut, Putra mengaku tidak mengetahui hal tersebut dan membantah menggunakan benda apa pun.
“Kalau ada keterangan benda tumpul, saya sendiri tidak tahu. Saya tidak menggunakan benda apa pun. Saat itu saya berhadapan langsung dengan dia,” tegasnya.
Putra juga mengaku tidak mengenal Putu yang disebut sebagai salah satu rekan korban dan saksi kejadian.
“Putu siapa? Saya tidak kenal,” jawab Putra.
Ia juga membantah berada di lokasi saat kejadian yang menurut Putu melibatkan pengeroyokan terhadap dirinya.
“Kalau yang Putu itu saya tidak ada. Saya tidak ada di situ,” ujarnya.
Keterangan Berbeda Perlu Dicocokkan dengan Bukti
Perbedaan keterangan antara Putu dan Putra tersebut menjadi bagian penting dalam pengungkapan perkara. Putu menyebut Graha sempat dicekik oleh petugas keamanan sebelum situasi berlanjut ke area parkir. Ia juga mengaku mengalami pengeroyokan dan melihat Graha tergeletak dalam kondisi kejang.
Sementara Putra membantah melakukan pencekikan dan menyatakan dirinya hanya berusaha mengamankan Graha. Ia mengakui adanya tindakan yang menyebabkan Graha terjatuh, namun menurutnya tindakan tersebut terjadi secara refleks setelah dirinya mendapat serangan.
Karena terdapat perbedaan keterangan, fakta sebenarnya perlu didalami dan dicocokkan dengan sejumlah alat bukti, termasuk rekaman CCTV, keterangan saksi-saksi lain, hasil visum, serta bukti lain yang dimiliki penyidik.
Putu berharap proses hukum berjalan objektif dan seluruh pihak yang terbukti terlibat dapat diproses sesuai ketentuan hukum.
“Harapan saya biar kasusnya adil,” tegas Putu.
Sekitar 25 hari setelah kejadian, Putu juga mengaku sejumlah luka di tubuhnya masih terlihat. Ia mengatakan tidak menjalani pengobatan khusus dan hanya menjalani pemeriksaan visum.
“Tidak pernah diobati. Ini mata saya masih biru, ini luka, ini luka,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai bukti pemeriksaan medis, Putu menyatakan dirinya memiliki dokumen hasil visum.
“Ke visum saja. Bukti visumnya ada,” katanya.
Sementara itu, Putra tetap pada keterangannya bahwa dirinya tidak bermaksud melakukan kekerasan terhadap Graha dan menyatakan tindakannya dilakukan dalam konteks menjaga keamanan.
Dengan adanya dua versi keterangan tersebut, pengungkapan fakta sebenarnya masih bergantung pada hasil penyidikan dan pendalaman alat bukti. Rekaman CCTV, keterangan para saksi, hasil visum, serta bukti lainnya diharapkan dapat membantu penyidik mengurai secara objektif rangkaian kejadian yang terjadi di Cafe Djembank.
Seluruh pihak yang disebut dalam perkara ini tetap memiliki hak untuk memberikan keterangan, klarifikasi, dan pembelaan sesuai proses hukum yang berlaku. (dil)







