Pendaki saat melewati jalur pendakian torean klu. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Gunung Rinjani selalu punya cara untuk memikat para penggiat alam bebas. Jika jalur Senaru dan Sembalun kerap menjadi pilihan utama bagi pendaki pemula karena treknya yang cenderung terbuka dan klasik, jalur Torean kini menjelma menjadi primadona baru yang menawarkan sensasi bertualang berbeda—sebuah perpaduan antara lanskap magis, jurang terjal, dan vegetasi hutan hujan yang lebat.

​Sangga Kurnia Adiguna, seorang eks Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unram yang telah beberapa kali menjelajahi berbagai puncak gunung di Indonesia, membagikan pengalamannya menyusuri trek yang sering dijuluki sebagai “Jalur Jurassic Park” Rinjani ini.

​”Jalur Torean itu punya karakter yang sangat unik dibanding jalur pendakian Rinjani lainnya,” ujar Sangga belum lama ini.

“Kalau Senaru didominasi hutan lebat di awal lalu padang savana, dan Sembalun menyuguhkan bukit-bukit teletubbies yang terik, Torean menyajikan pemandangan ngarai dan lembah raksasa yang benar-benar spektakuler sejak pertengahan jalur.”

​Perjalanan dimulai dari Desa Torean, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Di awal rute, pendaki akan disuguhi ladang warga dan kawasan hutan tropis yang sejuk. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai ketika memasuki area lembah.

​Sangga menjelaskan bahwa salah satu titik paling mendebarkan sekaligus memukau adalah saat pendaki menyusuri tebing-tebing batu yang diapit dua dinding gunung megah. Di dasar lembah, mengalir Sungai Kokok Putih yang berwarna kebiruan—aliran air limpahan langsung dari Danau Segara Anak.

​”Yang paling berkesan buat saya adalah ketika kita berjalan di setapak tebing yang sempit dengan celah jurang di satu sisi dan dinding batu tegak di sisi lainnya. Di sepanjang perjalanan, kita bisa melihat beberapa titik air terjun alami yang jatuh langsung dari tebing tinggi, salah satunya Air Terjun Penimbungan,” kenang Sangga.

​Menurutnya, pemandangan Air Terjun Penimbungan dari ketinggian jalur Torean menyajikan sudut pandang yang sangat dramatis dan sulit ditemukan di gunung-gunung lain di Indonesia.

​Meskipun keindahannya luar biasa, Sangga mengingatkan bahwa jalur Torean membutuhkan persiapan fisik dan mental yang matang. Jalur ini dulunya merupakan rute tradisional warga lokal dan peziarah yang hendak menuju Danau Segara Anak, sehingga karakternya relatif lebih terjal dan teknis.

​”Jalur Torean ini relatif lebih landai dari segi elevasi kenaikan puncak jika dibandingkan Senaru, tapi jalurnya cukup berisiko. Ada beberapa titik pass tebing yang sangat sempit, tangga besi di celah batu, serta rawan longsor saat curah hujan tinggi,” jelas pria yang berbasis di Desa Santong Kabupaten Lombok Utara ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara Dende Dewi Tresni Budi Astuti mengatakan, jalur torean merupakan salah satu akses pendakian secara resmi oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) telah meresmikan Torean sebagai salah satu dari enam jalur pendakian resmi sejak 1 April 2021. Pendaki dapat membeli tiket masuk secara legal melalui aplikasi resmi eRinjani.

“Tapi hanya saja, jalur Torean saat ini sedang ditutup untuk sementara waktu oleh pihak BTNGR akibat dampak kebakaran hutan hebat yang melanda kawasan Bukit Setampol pada akhir September 2026. Kebakaran tersebut merusak medan pendakian, menghanguskan vegetasi, serta memutuskan tali-tali pengaman di jalur terjal,” pungkasnya.(iko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here