Gerbangindonesia.co.id – LOMBOK TIMUR – Pemanfaatan teknologi untuk mendukung penanggulangan bencana di kawasan wisata menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pemerintah daerah mendorong pengembangan aplikasi Sistem Informasi Gunung Merapi Inklusif (SIGUMI) guna meningkatkan akses informasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.
Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), diseminasi hasil penelitian, dan pengenalan aplikasi SIGUMI yang berlangsung di Rupatama 1 Kantor Bupati Lombok Timur, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi serta pelatihan mitigasi bencana melalui pendekatan komunikasi yang inklusif.
Program riset tersebut mencakup pengembangan mitigasi di kawasan Gunung Merapi, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani. Ketiga kawasan itu menjadi perhatian dalam upaya mengintegrasikan pengurangan risiko bencana dengan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.
Bupati Lombok Timur H. Hairul Warisin menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai potensi alam yang dimiliki Lombok Timur perlu dikelola dengan memperhatikan berbagai risiko yang dapat mengancam masyarakat maupun pengunjung destinasi wisata.
Menurut Hairul, penanganan kebencanaan membutuhkan dukungan pemerintah melalui kebijakan yang tepat serta regulasi yang memadai. Pemkab Lombok Timur juga berkomitmen memperluas penggunaan teknologi digital untuk mendukung pelaksanaan berbagai program daerah.
Ia berharap inovasi SIGUMI dapat memberikan kontribusi terhadap upaya antisipasi bencana, terutama melalui kemudahan akses informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, menjelaskan bahwa tantangan kebencanaan di daerahnya cukup beragam. Sebagai wilayah yang memiliki kawasan Gunung Rinjani, Lombok Timur perlu memastikan pengembangan pariwisata berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Dalam dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) 2025–2030, Provinsi Nusa Tenggara Barat tercatat berada pada urutan ketujuh secara nasional berdasarkan tingkat kerawanan bencana. Lombok Timur sendiri memiliki hampir 11 jenis potensi ancaman, mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, banjir rob, longsor, angin puting beliung, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga tsunami.
Menurut Mulyadi, kondisi tersebut mengharuskan BPBD terus meningkatkan kemampuan personel dan memperkuat koordinasi dalam penanggulangan bencana. Informasi yang akurat dan tersampaikan dengan cepat menjadi salah satu kebutuhan penting, terutama ketika kejadian darurat berlangsung di kawasan yang dipadati wisatawan.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 30 September 2026, Gunung Rinjani berada pada Level II. Pemantauan aktivitas gunung dan kesiapan menghadapi perubahan kondisi, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama. Rekomendasi penanganan maupun evakuasi harus mengacu pada perkembangan status dan informasi resmi dari instansi berwenang.
SIGUMI diharapkan dapat membantu petugas menyampaikan peringatan dini sebelum bencana sekaligus mendukung respons saat keadaan darurat. Penggunaan informasi berbasis koordinat dirancang untuk mempermudah identifikasi lokasi kejadian dan membantu tim menemukan posisi korban.
“Dengan aplikasi SIGUMI, diharapkan tim akan lebih mudah menentukan titik korban atau lebih cepat mengeluarkan rekomendasi dan peringatan dini,” kata Mulyadi.
Ketua Tim Peneliti Riset Inovatif Produktif (Rispro), Adhiyanti Nurjanah, menerangkan bahwa aplikasi tersebut dikembangkan dengan empat landasan utama, yakni mitigasi bencana, komunikasi inklusif, kolaborasi pentahelix, dan pariwisata berkelanjutan.
Pengembangan SIGUMI juga menempatkan keterlibatan lintas sektor sebagai bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan. BPBD dan Dinas Pariwisata ditetapkan sebagai administrator aplikasi, sementara masyarakat dan wisatawan diharapkan ikut memanfaatkan platform tersebut untuk mendukung pengurangan risiko bencana.
Adhiyanti menyebut hasil penelitian yang berlangsung selama satu tahun itu diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi digital, tetapi juga memberikan solusi bagi persoalan kebencanaan di daerah. Ia turut menekankan perlunya dukungan regulasi, termasuk Peraturan Daerah tentang kebencanaan, agar upaya mitigasi dapat diperkuat secara berkelanjutan.
SIGUMI merupakan aplikasi seluler yang dirancang untuk menyajikan informasi mitigasi bencana gunung berapi kepada masyarakat, pendaki, wisatawan, pengelola destinasi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Platform tersebut diharapkan dapat membantu pengguna mengenali potensi bahaya serta memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam meningkatkan kesiapsiagaan.
Meski telah diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, SIGUMI masih dalam tahap pengembangan. Aplikasi ini direncanakan tersedia melalui Google Play Store dan Apple App Store setelah proses pengembangannya memungkinkan untuk diluncurkan secara luas.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sosialisasi mitigasi di kawasan wisata rawan bencana dan pemanfaatan SIGUMI oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Tim Rispro turut melakukan uji coba aplikasi sebagai bagian dari pengenalan fungsi dan penerapannya.
Melalui kolaborasi dengan UMY, Pemkab Lombok Timur berharap pemanfaatan teknologi dapat memperkuat komunikasi kebencanaan dan mendorong keterlibatan berbagai pihak. Dengan demikian, kesiapsiagaan masyarakat dan keselamatan wisatawan dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata di kawasan Gunung Rinjani.(red)







