Wakil Ketua bersama Ketua Komisi III DPRD Lotim saat melakukan sidak di Kantor PDAM Selong. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Selong, Kamis (3/2).

Baca Juga: Optik Bersama Siapkan 100 Unit Kacamata Baca dan Minus Gratis, Ini Syaratnya..

Wakil ketua DPRD Lotim, H Badran Acrhid menyampaikan, pada Sidak tersebut dewan lebih menyorot terkait anggaran PDAM. Selain itu ditemukan PDAM belum menggunakan anggran secara efisien. Hal tersebut dilihat dari jumlah anggran yang keluar terlalu banyak.

“Kita menekankan agar biaya-biaya itu lebih diefisienkan, agar tidak terjadi pembengkakan,” katanya.

Kata dia, banyaknya jumlah anggaran yang keluar tidak sebanding dengan jumlah penghasilan yang didapatkan oleh PDAM. Dari itu Dewan menilai pembengkakan anggaran tersebut lebih banyak terjadi pada anggaran untuk operasional, gaji pegawai dan biaya lainnya.

Menurutnya, pembengkakan anggaran tersebut dikarenakan pihak PDAM melakukan rekap penggajian pegawai maupun direksi sebelum mengetahui berapa jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan. Sehingga manajemen tersebut juga dinilai keliru.

“Jangan diitung dulu gajinya baru dilihat keuntungannya. Seharusnya dilihat keuntungannya dulu, sehingga bisa dilihat berapa persen yang harus disisihkan untuk gaji. Pendapatan hanya Rp 1 miliar lebih sementara pengeluaran sampai Rp 17 miliar,” sesalnya.

Pada tahun 2021 lalu, PDAM juga kembali mendapatkan penyertaan modal dari Pemkab Lotim sebesar Rp 4 miliar. Dana itu sebagai modal untuk memberikan sambungan air PDAM ke masyarakat miskin. Sehingga diharapkan ada keterbukaan dalam penggunaan anggaran tersebut dan lebih diefisiensikan.

“PDAM ini masih tergolong sakit, belum terlalu sehat ,” tutupnya.

Sementara itu Direktur Utama (Dirum) PDAM Lotim, Mudhan menyampaikan, sejauh ini pihaknya telah melakukan efisiensi anggaran. Salah satu cara dengan melakukan pengurangan anggara pembelian BBM. Kata dia, sebelumnya untuk pengeluaran BBM saja mencapai Rp 35-58 juta perbulanya. Namun saat ini sudah diminimalisir menjadi Rp 13 juta perbulannya.

“Pembelian BBM ini terlihat sepele, tapi lumayan anggaran yang dikeluarkan. Setelah kita lakukan efisiensi, kita berhasil menekan pengeluran sebesar 50 persen,” sanggahnya.

Selain itu, pembaca meter water saat ini sudah dialihkan ke digital. Sehingga petugas tidak perlu datang berkali-kali untuk melakukan pengecekan cukup dengan menscane barkode water meter langsung terhubung ke server cabang PDAM. Sehingga tidak perlu lagi pegawai bolak balik melihat cacatan untuk melakukan pengecekan water meter.

Baca Juga: Waw… FC Barcelona Bakal Bikin Sekolah Bola di NTB, Begini Konsepnya..

“Ini termasuk juga untuk menghemat pengeluaran dan memberikan pelayanan yang lebih cepat,” tutupnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here