Penumpang kapal cepat dari Bali saat baru tiba di Gili Trawangan beberapa waktu lalu. FOTO ANGGER RICO/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Utara melalui Dinas Pariwisata mulai menarik retribusi masuk kawasan wisata tiga gili (trawangan, meno, dan air). Penarikan ini menyasar penumpang kapal cepat dari Bali yang hendak menuju ke pulau. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara Drs. Ainal Yakin, Jumat (19/8). Penarikan tersebut merupakan upaya dinas guna mendongkrak target retribusi tahun ini.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun

Ainal mengungkapkan, pihaknya sudah memulai penarikan pada 3 minggu yang lalu objek pungutan di fokuskan pada Gili Air lebih dulu. Dalam prosesnya, pada hari pertama pungutan mencapai Rp 750 ribu sementara di hari kedua pungutan terkumpul sebanyak Rp 1,2 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa pariwisata khususnya yang ada di pulau sudah mulai bangkit, ke depan dua pulau lainnya yaitu Gili Trawangan dan Gili Meno juga akan diterapkan penarikan serupa.

“Ini sudah berlaku setiap hari kita tarik berdasarkan Perbup Nomor 64 Tahun 2021 dan Perda Nomor 5 Tahun 2010 artinya dasarnya itu sudah jelas ya,” ungkapnya.

“Tarifnya kalau wisatawan luar Rp 10 ribu kalau yang wisatawan lokal itu Rp 3 ribu,” imbuhnya.

Dijelaskan, pihak Akacindo sebagai organisasi perkumpulan kapal cepat dari Bali menyambut baik langkah tersebut. Bahkan dinas sudah melakukan sosialisasi dengan dibuatkan pamflet pun menempel stiker pada sejumlah kapal yang datang maupun pergi. Sementara penerapan pada Gili Trawangan, meski diakui jumlah wisatawannya berbanding 1:3 dengan Gili Air implementasi itu justru terkendala tenaga. Pasalnya, dinas hanya memanfaatkan tenaga OJT lantaran keterbatasan operasional kendati begitu, pihaknya terus akan memaksimalkan sumber daya yang tersedia sekarang.

“Kita lihat baru 3 minggu sudah masuk banyak (retribusi), kesiapan dari kami yang akan tempatkan di sana 5 orang. Jujur kita masih sangat kekurangan, tapi nanti yang pasti Gili Trawangan juga akan kita tarik,” jelasnya.

Target Retribusi pariwisata yang disematkan pada dinas yang ia pimpin, lanjut Ainal, bukan lah nominal yang sedikit. Pasalnya ia ditarget dalam kurun 2022 ini harus bisa mengumpulkan Rp 1.7 Miliar retribusi jasa masuk pariwisata. Sementara titik yang dipungut saat ini tercatat 10 objek, selain Gili Air di antaranya Kecinan, Sasaku, Dermaga Teluk Nara, Bounty, Kebaloan, Pantai Impos, Air Terjun Kertagangga, Senaru, dan Pelabuhan Bangsal. Target tersebut memang di rasa agak berat kendati begitu pihaknya tetap optimis paling tidak bisa mendekati hingga akhir tahun 2022 mendatang.

“Makanya dengan kita pungut di Tiga Gili nanti itu bisa mendongkrak, namun ya itu harus dibarengi dengan operasional yang memadai. Tapi kalau sudah jalan (penarikan di dua pulau lainnya) saya rasa bisa. Jangankan Rp 1,7 miliar bila perlu lebih dari itu saya yakin mampu,” katanya.

Dari data Dinas Pariwisata menyangkut angka kunjungan wisatawan, sejauh ini sudah tercatat sebanyak 280 ribu kunjungan. 60 persen dari angka tersebut di dominasi oleh wisatawan mancanegara (wisman) sementara sisanya merupakan wisatawan nusantara (wisnu). Mengenai realisasi retribusi jasa masuk wisata, Ainal menyebut sudah mencapai Rp 124 juta dari ke 10 titik pungutan retribusi tersebut. Ini jelas merupakan PR bagi Dispar untuk mengejar sisa daripada target, maka demikian intensitas pungutan terus akan digenjot oleh pihaknya.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun

“Nanti pasti akan kita Launching yang di Trawangan. Sampai sekarang ini yang di Gili Air saja itu sudah masuk Rp 20 juta kita juga sudah setor ke kas daerah jadi tidak ada yang mampir ke sini (dinas) dulu,” pungkasnya.(iko)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here