Bupati Lotim dan Gubernur NTB saat menggelar Road Show dan Talk Show Ekosistem Industrialisasi. FOTO /SUPARDI GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Pemerintah Provinsi NTB menggelar Road Show dan Talk Show Ekosistem industrialisasi di Kabupaten Lombok Timur, Rabu (12/10). Talk Show ini bertemakan Diversifikasi Produk Lokal dengan menghadirkan sejumlah produk Industri dan UMKM yang ada di Lotim.

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy selaku Tuan rumah menyampaikan bahwa pada tahun 2023 mendatang Pemkab Lotim akan fokus untuk memfasilitasi industri dan UMKM yang ada di Lotim. Ini sebagai bentuk perhatian Pemkab Lotim terhadap industri dan pelaku UMKM di Lotim.

“Kita sudah finalisasi APBD tahun anggaran 2023 untuk fokus memfasilitasi masyarakat kita UMKM ini agar mereka bisa tersenyum ke depan,” ungkapnya dalam acara road show dan talk show di Lapangan Tugu Selong, Rabu (12/10).

Kata dia, kedepannya Pemkab Lotim juga akan menghadirkan semua alat yang dibutuhkan oleh para UKM seperti pengupas jagung, dan berbagai alat lainnya untuk memfasilitasi para UKM yang ada.

Disebutkannya pula bahwa saat ini salah satu makanan khas Lotim yakni Ayam Rarang sudah mulai di kirim ke berbagai daerah dengan dikemas menggunakan Kaleng, sehingga hal serupa juga akan dilakukan juga terhadap UKM yang lain seperti buah naga dan tomat, nanas dan buah lainnya.

Sebab selama ini, kata dia, ketika datang musim tomat, buah naga, nanas banyak para petani yang merugi karena harga yang murah. Sehingga Pemkab Lotim ingin para pelaku UKM bisa mengolah dan mengemas buah-buah tersebut sehingga bisa menjadi nilai jual yang lebih mahal.

“Sehingga kita tidak perlu lagi mengimpor dari luar daerah lagi karena kita sudah punya buah-buahan sendiri,” imbuhnya.

Pada tahun terakhir kepemimpinannya bersama Rumaksi, Sukiman juga ingin fokus untuk memfasilitasi UKM Lotim secara optimal sehingga bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Sebab kata dia produk yang dihasilkan oleh UKM di Lotim memiliki nilai jual tinggi.

“Terimakasih kepada BI Dinas Perindustrian NTB, Pemprov NTB yang telah bayak memfasilitasi UKM kami di Lotim, berkat dukungan itu sebentar lagi Lotim akan punya pabrik pengolahan Porang,” pungkasnya.

Sementara itu Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah menyampaikan bahwa selama ini banyak kesalahpahaman yang terjadi ditengah masyarakat dimana banyak masyarakat yang menilai bahwa industri itu merupakan industri pabrik besar dan yang mendatangkan kepulan asap di tengah perkotaan.

Akan tetapi industri itu adalah adanya kesadaran masyarakat untuk mengolah suatu barang atau hasil pertanian untuk menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi ketika musim panen tiba sehingga tidak mendatangkan kerugian bagi para petani.

“Mengolah komoditas pertanian kita semisal cabai itu kemudian kita kalengkan itulah yang disebut industrialisasi. Industri itu bagaimana kesadaran kita untuk mengolah hasil komoditas kita agar bisa bernilai jual tinggi ketika kita sudah panen,” ungkapnya.

Kata Gubernur, yang menjadi tantangan kedepannya ialah bagaimana pemerintah bisa memastikan hasil UKM di NTB bisa laku di pasaran. Sehingga ia meminta agar Dinas Perdagangan memastikan semua produk yang dihasilkan oleh UKM laku di pasaran.

Ia meminta semua OPD bekerjasama untuk memasarkan produk-produk UKM lokal agar bisa laku di pasaran. Dirinya berharap jangan sampai ada kepala OPD di NTB yang menggunakan produk luar karena dijanjikan jatah dari industri tersebut, sebab praktek seperti itu yang mematikan Industri lokal.

“Kadis kita jarang ke lapangan seakan-akan produk yang dibeli dari luar itu seakan-akan kualitasnya lebih bagus, pasti harganya lebih murah,” imbuhnya.

Lebih jauh ia menyampaikan bahwa banyak hasil produksi pertanian asal NTB yang dijual ke luar daerah. Akan tetapi Kemabli di beli oleh masyarakat NTB sendiri, sehingga ia tidak ingin hal tersebut terjadi terus menerus.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Kita bangga jagung kita di kirim ke luar daerah, ke luar negeri tapi nabati itu yang kembali kita beli sebagai pakan ternak, jadi itu kita dorong agar itu tidak terjadi. Jadi industrialisasi itu adalah bagaimana kita bisa memakai dan memanfaatkan produk -produk lokal kita,” pungkasnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here