Fanny Agustin

Oleh: Fanny Agustin
NIM: 202210360311207
Fakultas: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Prodi: Hubungan Internasional


Mataram – Memperingati hari HAM sedunia yang jatuh pada tanggal 10 November 2022, Komnas HAM kali ini mengungsung tema yang berbeda serta cukup unik dari tahun sebelumnya, yaitu “Berkebudayaan, Berkemanusian”. Seperti yang sudah dicanangkan selama beberapa tahun, hadirnya kembali hari besar ini diharapkan dapat menyadarkan para pemangku kebijakan terkait perkembangan atas kasus pelanggaran HAM yang terjadi di tahun ini dan semakin tidak terkendali.

World Human Rights Day, mengingatkan saya atas tragedi kanjuruhan yang sempat terjadi beberapa bulan terakhir dan cukup menghebohkan masyatakat Indonesia. Dari kejadian tersebut kita semua belajar, bahwa sistem HAM di Indonesia itu sangat buruk total hingga tak terselamatkan. Ditambah, lamanya penanganan atas tragedi tersebut cukup membuat panas hati. Para pemangku kebijakan pun, sibuk menutup telinga mereka sehingga suara kami sebagai para korban diabaikan. Yang kami inginkan hanya untuk didengar, mungkin kami bukanlah artis ataupun menteri, serta politisi berkekuasaan tinggi. Namun, apakah setidak penting itukah keberadaan kami yang menginginkan keadilan atas semua hal yang telah terjadi, dengan notabenenya merupakan kesalahan yang secara sengaja dilakukan oleh aparat kepolisian.

Selain permasalahan HAM yang masih abu-abu, hukum di Indonesia juga cukup terlibat dalam prosesnya. Dan penggabungan kedua unsur tersebut menjadikan para koruptor semakin percaya diri atas tindakannya yang tidak berdasar. Saya sebagai rakyat Indonesia sangat mengharapkan adanya kesadaran oleh pemangku kebijakan yang hanya berpihak pada kekuasaan semata. Meski terlihat usaha pemerintah demi menetralisir adanya hal tersebut, namun dengan merajalelanya orang berkuasa yang haus akan uang, masa depan negara kita mesti dipertanyakan.

Dengan maraknya kasus pelanggaran di Indonesia yang telah menghiasi hingga akhir tahun 2022 ini, hal tersebut tentu menarik perhatian masyarakat luas. Terutama, perihal kasus yang terjadi dibalik penyambutan piala dunia di Qatar. Berkaitan dengan pemanfaatan tenaga kerja migran bergaji miring yang telah merenggut nyawa 37 diantaranya, masih menjadi pertanyaan.

Sebenarnya, permasalahan terkait hal ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun sangat disayangkan apabila hal tersebut yang harusnya menjadi pembelajaran bagi negara yang dimaksud, justru mendapati kesalahan yang serupa. Bahkan seorang tenaga kerja asing sekalipun, memiliki hak untuk dihargai dan hidup.

Kembali membahas terkait negara kepulauan tercinta kita, yang saya sendiripun tidak yakin apakah mampu bertahan di antara orang-orang bertopeng alias politisi atau pemerintahan. Dan yang jelas, melimpahnya kasus pelanggaran HAM di Indonesia perlu dipertegas kembali, entah dari kasus politisi yang memanfaatkan kekuasaannya untuk tidur nyaman di bilik sel penjara mereka, ataupun pengelompokkan rakyat dari segi pengaruh yang diterimanya. Intinya, Indonesia mendukung siapapun dengan kekuasaan terkuat, tidak peduli sebesar apa kesalahan yang diperbuat. Negara ini cukup adil, bagi mereka dengan kuasa. Sedangkan rakyat, hanya menerima segelintir harapan yang tidak dapat dipertegas.

Dan yang menjadi pertanyaan saya saat ini, dan mungkin kebanyakan orang. Apa kabar dengan Indonesia kami? Bukankah rakyat merupakan salah satu faktor utama yang paling penting serta harusnya menjadi prioritas oleh pemerintah demi terwujudnya sebuah negara yang sejahtera? Kamipun manusia, bukan hanya sekedar objek yang ada dengan tujuan untuk melengkapi tatanan negara. Kami juga berhak untuk didengar!

Diharapkannya dengan hadirnya hari HAM sedunia ini, Indonesia dapat sepenuhnya berubah menjadi negara maju yang lebih baik ditahun berikutya. Bukan hanya sekedar mencanangkan omong kosong di atas kertas yang entah akan terealisasi atau tidak. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here