Sampah di Gili Trawangan tengah menggunung. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Persoalan sampah di kawasan wisata tiga gili, yakni Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, terus menjadi perhatian serius. Meski pelayanan pengangkutan berjalan lancar, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) kewalahan menampung volume sampah yang mencapai belasan ton per hari.

Kabid Persampahan dan Limbah B3 DLH Lombok Utara, Samsul Hadi, menjelaskan bahwa dari sisi pelayanan, pengangkutan sudah tertangani dengan baik. Sampah di Gili Air, misalnya, diangkut sejak subuh, sementara di Gili Trawangan sudah terlayani sekitar pukul 08.30 WITA.

“Secara pelayanan tata kelola sangat baik. Persoalan kita ada di TPST dan gunungan sampah itu,” ujarnya, Senin (29/9/2025).

Saat ini, kapasitas alat pengolah sampah di TPST hanya mampu menangani 7–8 ton per hari. Padahal, volume sampah yang masuk bisa mencapai 12–15 ton. Kondisi ini memicu penumpukan yang sulit dihindari.

“Yang 7–8 ton itu pun baru sebatas pemilahan, belum sampai tahap akhir seperti menjadi kompos. Untuk kompos butuh campuran, uji laboratorium, dan fasilitas tambahan,” jelasnya.

Selain organik, sampah plastik juga menjadi tantangan besar. Mesin paving block yang tersedia tidak mampu mengolah semua jenis plastik. DLH menilai perlu ada tambahan mesin dengan teknologi berbeda agar pengelolaan bisa lebih komprehensif. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah penggunaan insinerator. Namun, teknologi ini memiliki risiko besar jika tidak sesuai spesifikasi.

“Insinerator harus minimal punya suhu 1000 derajat. Di bawah itu bisa menimbulkan zat berbahaya yang berisiko kanker, apalagi kalau sampahnya basah. Ini yang sedang kami cari, insinerator dengan spek aman,” katanya.

Ia menambahkan, biaya pengadaan insinerator sangat tinggi. Meski uji gas emisi dapat dilakukan di Indonesia, tes dioksin sebagai residu pembakaran hanya bisa dilakukan di Ceko, dan itu pun lima tahun sekali. DLH Lombok Utara sendiri telah membahas rencana pengadaan insinerator senilai Rp5 miliar bersama TAPD. Namun menurut Samsul, solusi jangka panjang tetap terletak pada perubahan perilaku masyarakat.

“Solusi utamanya tetap pada pengadaan alat. Tapi lebih penting lagi, bagaimana masyarakat bisa ikut mengurangi sampah dari sumbernya,” tegasnya.(iko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here