GerbangIndonesia, Lombok Tengah – Suasana di Desa Kabul, khususnya di wilayah Gubuk Sape, pecah oleh isak tangis bahagia pada Selasa malam (12/05/2026). Ihsan, atau yang akrab disapa Esan, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang hilang kontak selama 19 tahun, secara mengejutkan memberi kabar bahwa dirinya masih hidup.
Kisah pilu ini bermula pada tahun 2007 saat Esan berangkat merantau untuk mencari rezeki. Setelah 10 tahun dirantau, keluarga sebenarnya sempat mendapat kabar bahwa Esan akan pulang melalui jalur laut Malaysia-Batam. Namun, kebahagiaan yang dinanti berubah menjadi duka mendalam setelah Esan hilang kontak tepat di hari kepulangannya.
Berbagai spekulasi muncul selama 9 tahun terakhir, termasuk kabar maut mengenai tenggelamnya kapal bot penyeberangan yang konon tak menyisakan satu pun korban selamat. Meski sebagian keluarga sempat menganggapnya telah tiada, sang ibu yang akrab disapa Keberaq tetap teguh pada keyakinannya bahwa putranya masih hidup.
Keajaiban itu datang melalui pesan di media sosial. Esan menghubungi kerabatnya yakni sekaligus pamannya, Jhoni Sutangga menggunakan akun milik seorang teman karena dirinya tidak memiliki ponsel. Rasa tidak percaya dan haru menyelimuti kerabat saat melakukan panggilan video (video call) dan melihat wajah Esan di layar ponsel.
Dalam komunikasi pertama tersebut, Esan yang tampak gelisah dan bingung mengaku baru saja keluar dari penjara di Malaysia. Beruntung, selama di balik jeruji besi, ia bertemu dengan warga asal Desa Montong Ajan (desa tetangga) yang membantunya kembali terhubung dengan keluarga.
Kabar ini langsung menyebar cepat. Setibanya kerabat di rumah keluarga besar untuk memberi tahu informasi tersebut, tangisan massal tak terbendung. Adik Esan bahkan jatuh pingsan karena syok, sementara sang ibu terus memanggil nama anaknya dengan histeris, memohon agar ia segera pulang.
Meski membawa kebahagiaan besar, kepulangan Esan nantinya akan diwarnai rasa sedih karena sang ayah telah berpulang ke Rahmatullah. Sang ayah meninggal dunia dalam kondisi sakit-sakitan, terus dibayangi sosok Esan hingga akhir hayatnya.
Saat ini, Esan dilaporkan berada di Batam, menunggu proses pemulangan ke Jakarta oleh pihak imigrasi sebelum akhirnya terbang kembali ke Lombok. Keluarga kini bersiap menjemput kepulangan sang putra yang telah lama “hilang ditelan bumi” namun akhirnya ditemukan kembali oleh takdir. (*)







