Gerbangindonesia.co.id – Sumbawa Barat – Keterlambatan pendistribusian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kalimantong, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, mendapat penjelasan resmi dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kalimantong.
Kepala SPPG Kalimantong, Muhlas Zamroni, S.Tr.Kes, menyampaikan bahwa keterlambatan tersebut terjadi akibat adanya kendala saat proses persiapan makanan. Pihaknya harus melakukan penyesuaian karena ditemukan bahan baku yang tidak layak digunakan.
Menurut Muhlas, bahan baku yang bermasalah langsung diganti agar makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat tetap aman, sehat, dan sesuai standar.
“Kami lebih memilih melakukan penggantian bahan daripada menyalurkan makanan yang kualitasnya diragukan. Keselamatan penerima manfaat tetap menjadi prioritas,” ujar Muhlas.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat penerima manfaat, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, karena distribusi tidak dapat dilakukan sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Muhlas menjelaskan, selain kendala bahan baku, hujan deras yang terjadi di wilayah Brang Ene juga ikut memperlambat proses distribusi. Kondisi cuaca tersebut membuat petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan pengantaran ke titik penerima manfaat.
“Kami memahami keterlambatan ini menimbulkan ketidaknyamanan. Karena itu, kami memohon maaf dan menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi penting,” katanya.
Sebelum pendistribusian dilakukan, lanjut Muhlas, pihak SPPG Kalimantong telah melakukan koordinasi dengan Bidan Desa mengenai perubahan waktu penyaluran. Dari koordinasi itu, distribusi disepakati dilakukan pada sore hari sekitar pukul 16.00 Wita.
Muhlas juga membantah informasi yang menyebutkan bahwa kegiatan SPPG Kalimantong berjalan tanpa pengawasan. Ia menegaskan bahwa setiap tahapan kerja tetap dipantau oleh petugas melalui sistem piket secara bergantian.
Bahkan, sejumlah petugas disebut tetap berada di kantor SPPG untuk memastikan proses persiapan, pengolahan, hingga distribusi makanan berjalan sesuai ketentuan.
“Pengawasan tetap dilakukan. Petugas kami bekerja secara bergantian untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai prosedur,” tegasnya.
Ahli Gizi SPPG Kalimantong, Detta Bayu Kurnia, S.Gz, menyampaikan bahwa kualitas gizi dan keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program MBG. Setiap makanan yang disiapkan, kata dia, harus melewati pengawasan sebelum disalurkan.
“Kami memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat memenuhi standar gizi dan aman dikonsumsi,” jelas Detta.
Sementara itu, Akuntan SPPG Kalimantong, Amylian Ihza Yusrina, A.md. Ak, menegaskan bahwa seluruh aktivitas administrasi dan operasional di SPPG Kalimantong tetap berpedoman pada Standar Operasional Prosedur atau SOP.
Ia menyebut, kejadian keterlambatan tersebut akan menjadi bahan perbaikan, terutama dalam memperkuat kesiapan bahan baku, koordinasi lapangan, dan pengaturan waktu distribusi.
“Kami akan terus melakukan evaluasi agar pelayanan ke depan bisa berjalan lebih tertib dan kendala serupa dapat diantisipasi,” ujarnya.
Muhlas berharap masyarakat dapat memahami kondisi yang terjadi di lapangan. Ia juga menyatakan bahwa SPPG Kalimantong terbuka terhadap kritik dan masukan demi peningkatan kualitas pelayanan.
“Masukan dari masyarakat sangat kami butuhkan. Ke depan, kami akan terus memperbaiki sistem agar pendistribusian berjalan lebih baik,” imbuhnya.
SPPG Kalimantong memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan tenaga kesehatan desa, pemerintah desa, dan pihak terkait lainnya untuk mendukung kelancaran Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Brang Ene.(red)







