
GerbangIndonesia, Mataram — Universitas Mataram (Unram) melalui program “Profesor Berdampak” menggelar kegiatan sosialisasi strategis terkait penerapan peta Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) terbaru Pulau Lombok. Kegiatan ini difokuskan pada desain seismik terowongan mikro (microtunneling) dan sistem penyangga untuk proyek Sanitasi Kota Mataram, yang berlangsung di Hotel Prime Plaza Mataram, Selasa (03/11/2026).
Program Profesor Berdampak sendiri merupakan transformasi dari kebijakan kampus berdampak yang disinergikan dengan program pemerintah daerah seperti “Desa Berdaya”. Program ini diinisiasi untuk mendekatkan para guru besar agar turun langsung memberikan kontribusi nyata dan mengimplementasikan keahlian ilmiahnya di tengah masyarakat.
Profesor Berdampak Unram, Prof. Didi S. Agustawijaya menjelaskan bahwa bidang teknik memiliki tantangan tersendiri karena berkaitan langsung dengan konstruksi proyek fisik. Oleh karena itu, bentuk pengabdian yang dihadirkan difokuskan pada mitigasi dampak proyek sekaligus mitigasi bahaya kebencanaan di wilayah setempat.
“Kota Mataram ini rawan terhadap bencana gempa. Dampak ikutan dari gempa itu salah satunya adalah likuifaksi, dan Mataram, khususnya wilayah Kecamatan Ampenan, memiliki potensi likuifaksi yang tinggi. Bersamaan dengan itu, saat ini sedang berjalan proyek pembangunan sanitasi terpadu,” ujar Prof. Didi saat ditemui usai kegiatan.
Ia memaparkan, proyek pembangunan sanitasi dari Kementerian Cipta Karya tersebut menggunakan konstruksi microtunneling atau terowongan kecil dari pipa fleksibel HDPE, lengkap dengan titik kontrol (manhole). Mengingat wilayah Kota Mataram memiliki potensi likuifaksi, sambungan pipa dan struktur tersebut dikhawatirkan rentan mengalami pergeseran, terlepas, atau mengapung saat terjadi gempa bumi.
Melalui sosialisasi ini, Prof. Didi mengingatkan pihak pengembang proyek dan masyarakat agar memperketat mitigasi desain struktural, salah satunya dengan memastikan adanya jalur pelepasan tekanan air tanah guna mengantisipasi ancaman likuifaksi.
Selain menyasar proyek fisik, program ini juga merumuskan rekomendasi kebijakan (policy brief) bagi pemerintah daerah, seperti mendorong BPBD Kota Mataram bersama instansi terkait untuk memperkuat peta bahaya bencana likuifaksi. Di tingkat masyarakat, pihaknya mengedukasi warga agar memahami mitigasi sederhana, termasuk mengaktifkan kembali pembuatan sumur pantau atau sumur bor guna mengontrol muka air tanah di zona rawan.
Sementara itu, Lurah Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, Nani Nurkomala, menyambut baik dan mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan wawasan baru bagi kelurahan dan masyarakat mengenai potensi kebencanaan yang ada di Kota Mataram.
“Kegiatan ini sangat berdampak. Ada hal-hal baru terkait mitigasi kebencanaan yang kami pahami. Di Kota Mataram ternyata ada potensi-potensi kebencanaan lain yang harus disadari bersama, sehingga pemahaman ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga sumber daya alam dan menghadapi potensi bencana,” ungkap Nani.
Melalui sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat ini, diharapkan pembangunan infrastruktur kota tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan faktor keamanan dan keselamatan lingkungan dari ancaman bencana di masa depan. (*)





