GerbangIndonesia, Jakarta – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengakui pola komunikasi yang dilakukan untuk menyosialisasikan pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia belum maksimal.

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito berdalih cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas dengan beraneka ragam budaya dan bahasa daerah butuh waktu lama untuk menyampaikan bahaya corona ke masyarakat.

“Kemampuan kami untuk bisa menyentuh seluruh masyarakat dengan budaya yang berbeda, cara berpikir yang berbeda, ternyata komunikasi yang telah kami lakukan itu belum efektif untuk membuat sebagian orang yakin. Cara komunikasinya harus disesuaikan, ini berjalan seiring waktu juga, masih banyak yang belum percaya, gak perlu ke desa, di kota besar pun ada yang tidak percaya,” kata Wiku dalam diskusi dari Gedung BNPB, Jakarta, Jumat (4/11/2020).

Hal ini diperparah oleh aktivitas warga yang melakukan perjalanan selama libur panjang, euforianya membuat masyarakat abai protokol kesehatan sehingga tingkat penularannya meningkat.

“Jadi masyarakat harus sadar belajarlah dari pengalaman, mari kita dongkrak perubahan perilaku,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah testing yang masif juga tidak akan mempengaruhi kenaikan kasus jika masyarakat dalam kesehariannya menerapkan protokol kesehatan.

“Testing banyak kalau penularannya sedikit yang positif juga pasti akan sedikit, sementara kalau ditesting banyak, angka (positif) naik terus berarti penularannya tinggi, kalau kita tidak mencegah melalui 3M berapapun mau dites maka akan positif, jadi bukan hanya testing dan tracing,” tuturnya.

Diketahui, jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia kembali mencatatkan rekor bertambah sebanyak 8.369 orang pada Kamis (3/12/2020), sehingga total kasus menjadi 557.877 orang.

Satgas mencatat terjadi tren penurunan kedisiplinan protokol kesehatan di masyarakat, hingga 27 November 2020 persentase kepatuhan untuk memakai masker ialah 58,32 persen.

Sedangkan untuk menjaga jarak persentasenya ialah 43,46 persen. Dari data tersebut, dapat disimpulkan, bahwa liburan panjang merupakan momentum pemicu utama penurunan kepatuhan disiplin protokol kesehatan.

Lalu, dari peta zonasi kepatuhan memakai masker dan menjaga jarak, dari data 512 kabupaten/kota yang masuk, hanya kurang dari 9 persen kabupaten/kota yang patuh dalam memakai masker. Dan yang lebih memprihatinkan, kurang dari 4 persen kabupaten/kota yang patuh dalam menjaga jarak. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here