GerbangIndonesia, Lotim – Semenjak mewabahnya Covid-19 di Indonesia, sejumlah pengrajin kayu Gaharu di Desa Danger Kecamatan Masbagik mengeluhkan sulitnya perputaran ekonomi saat pandemi beberapa waktu terakhir. Mengingat selama setahun terakhir, pesanan kayu gaharu mengalami penurunan signifikan.
Mansur salah satunya. Pengerajin kayu gaharu asal Desa Danger Kecamatan Masbagik ini mengatakan, sebelum mewabahnya pandemi pesanan kayu gaharu banyak diekspor ke sejumlah negara, khususnya Timur Tengah. Sehingga saat itu omset penjualannya hingga miliyaran.
“Kayu gaharu ini memang banyak diminati warga Timur Tengah sebagai pengharum ruangan,” ujar Mansur saat ditemui di rumahnya, Sabtu (5/12).
Dikatakan, di massa Pandemi ini pesanan kayu Gharu menurun hingga 50 persen. Sehingga hal tersebut berdampak juga pada omset yang didaptkan. Dimana semulanya ia biasanya mengirim hingga 1,5 ton kerajinan kayu gaharu.
Mansur menceritakan, kerajinan tersebut ditekuni sejak tahun 2018 lalu. Dimana waktu itu dirinya baru pulang dari Kalimantan sebagai pencari kayu gaharu di hutan.
“Alhamdulillah dengan kerajinan ini sudah banyak hasil yang didapatkan, untuk karyawannya kami memberdayakan masyarakat sekitar, ada yang kerja di rumah masing-masing ada juga di sini, itung-itung nambah penghasilan lah,” imbuhnya.
Selama ini dirinya, banyak memperoleh pesanan kayu tersebut dari Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Selain itu kerajinan tersebut juga banyak dikirim ke luar negeri selain ke Timur Tengah.
Kendati demikian di massa Pandemi ini, sebagai selingan dan untuk mendapatkan tambahan penghasilan, ia dan karyawannya membuat berbagai macam kerajinan dari berbagai jenis kayu dan batok kelapa. Seperti lampu hias, cangkir, papan nama, asbak, patung kayu, bonsai, dan kerajinan lainnya. (*)







