GerbangIndonesia, Lotim – Masyarakat Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela menggelar acara Budaya Nggaro-Nggareng (membajak sawah, Red). Acara tersebut merupakan salah satu pesona budaya Desa Pengadangan yang digelar setiap tahunnya.
Prosesi budaya tersebut sama halnya peroses penanaman padi pada umumnya yang dimulai dari penyemaian bibit padi dalam bahasa Lombok disebut dengan ngampar, dilanjutkan dengan membajak sawah menggunakan sepasang kerbau, kemudian dilanjutkan dengan reas (mencabut bibit padi), menanam dan terahir memano atau membawakan nasi bagi para pekerja di sawah.
Hal tersebut menandakan dan menceritakan kebiasan orang setempat atau masyarakat Lombok pada umumnya ketika musim tanam padi. Dalam prosesi budaya tersebut juga diiringi loleh musik tradisional Lombok yang disebut kelentang.
Budi Setiawan Ketua Karang Taruna sekaligus Panitia Acara mengatakan, digelarnya Budaya Nggaro Nggareng tersebut sebagai simbolik akan dimulainya musim tanam padi bagi masyarakat pengadangan yang berprofesi sebagai petani.
“Sekarang ini kan musim hujan jadi yang di tanam itu padi, sehingga budaya ini sebagai pertanda akan dimulainya musim tanam, sehingga masyarakat yang berprofesi sebagai petani bisa langsung membajak sawah mereka dan mulai menanam padi,” terang Budi Setiawan saat ditemui di sela-sela acara.
Dikatakannya, Budaya Pesona Desa Pengadangan tersebut digelar setiap tahunnya, namun event Nggaro Nggareng tersebut sengaja diangkat sebagai menu lain dari pesona budaya Desa Pengadangan yang ketiga.
“Kemarin yang pertama dan kedua, kita mengangkat masalah adat gamang, kemudian 1.000 dulang, kedua 3.000 dulang dan sekarang kita angkat Nggaro Nggareng-nya,” imbuh Budi.
Namun di satu sisi, perayaan pesona budaya kali ini cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mengingat masing dalam situasi Pandemi Covid-19. Ia mengaku perayaan budaya tersebut sedikit terkendala dengan izin, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.
Budi menyebut, budaya tersebut mendapat support langsung dari Kementerian Parawisata dan Dinas Parawisata Lotim. Sehingga pada perayaan di tahun yang akan datang di harapkan bisa lebih meriah lagi dari tahun sekarang.
“Semoga pada tahun akan datang lebiheeiah lagi, bisa disaksikan oleh semua lapisan masyarakat tanpa dibatasi seperti ini, seperti tahun sebelumnya,” katanya. (*)








