
Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sangat berdampak pada seluruh sektor. Salah satunya usaha kuliner.
Lalu Habib Fadli, Lombok Barat
USAHA kuliner termasuk dalam jenis usaha yang diperbolehkan tetap buka selama masa pandemi Covid-19. Namun demikian, tak sedikit pengusaha kuliner yang menutup usahanya lantaran menurunnya jumlah pengunjung.
Seperti pengakuan Amar Bamasaq, Owner Kedai Amar Pantai Tanjung Bias Lombok Barat misalnya. Dia mengaku sempat menutup usahanya selama tiga bulan pada awal Corona menerjang.
Dampak yang ia rasakan pun cukup besar. Penurunan pengunjung selama masa pandemi tentu juga berujung pada penurunan omzet kedai miliknya.
“Biasanya tembus di atas Rp 5 juta perhari, tapi sekarang dapat Rp 2 juta saja sangat bersyukur,” ujarnya saat berbincang dengan gerbangindonesia.co.id akhir pekan lalu.
Penurunan pengunjung memang menyebabkan anjloknya pendapatannya. Bahkan di angka 70 persen dari biasanya.
“Intinya kami tetap bertahan, meski harus tertekan,” katanya.
Diakuinya, usahanya mengalami masa sulit berjuang agar bisa tetap bertahan. Selain memikirkan gaji karyawan, biaya operasional pun terbilang cukup tinggi.
Di satu sisi, di masa new normal, Amar dan pelaku usaha diwajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan. Seperti menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer, serta mengatur jarak antar pengunjung satu dengan pengunjung lainnya.
SOP untuk karyawannya juga diterapkan oleh pria 28 tahun itu. Untuk pegawai, wajib mengenakan masker yang sudah disiapkan dari kedai, bukan masker yang dibawanya dari rumah.
“Kita kan nggak tahu masker yang dari rumah, masih bagus atau tidak,” jelasnya.
Kemudian masalah lainnya, perubahan jam operasional. Sebelum pandemi, biasanya Kedai Amar buka mulai pukul 10.00 wita dan tutup pukul 23.00 wita. Namun saat ini, rata-rata buka mulai pukul 15.00 dan tutup kembali pukul 22.00 wita.
“Kami berharap agar pandemi ini bisa segera berlalu, dan ekonomi masyarakat kembali pulih,” tutupnya. (*)
Editor: Lalu Habib Fadli






