Keluarga Amaq Masrup saat menolak putusan yang dibacakan tim juru sita PN Praya, Kamis (24/6). FOTO LALU HABIB FADLI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lombok – Ketegangan memuncak di kawasan MotoGP Mandalika, Kamis (24/6/2021). Puluhan keluarga Amaq Masrup menolak putusan dieksekusi oleh Pengadilan Negeri (PN) Praya.

Di lahan yang berada di bagian tengah lintasan sirkuit MotoGP tersebut, keluarga Amaq Masrup meminta juru sita yang didampingi aparat untuk tidak mengeksekusi lahan mereka. Sebab ada beberapa tuntutan pihak keluarga, sampai saat ini belum dipenuhi pihak pelapor (ITDC, Red).

“Luas lahan kita kan 12.000 meter persegi, tapi kok dalam putusan yang dibacakan hanya 2.800 meter persegi? Begitu juga dengan harga, belum sesuai dengan kesepakatan,” teriak Suhar, anak Amaq Masrup di depan aparat dan juru sita.

Dengan nada lantang, Suhar bersama keluarga lainnya kekeh meninggalkan rumah mereka. Setidaknya sampai konsinyasi yang diberikan sesuai dengan kesepakatan bersama.

“Kami rela mati di tanah kelahiran kami. Kami tidak akan mundur sejengkal pun,” tegasnya lagi diamini warga lainnya.

Penolakan Masrup bersama keluarga juga didukung Kuasa Hukumnya, Lalu Rusdi SH. Menurut dia, ada beberapa kejanggalan dalam putusan PN Praya tersebut.

“Pertemuan terakhir dengan ITDC, kesepakatannya Rp 90 juta perare. Itu di luar bangunan. Sementara bangunannya Rp 300 juta,” jelas Lalu Rusdi kepada Gerbang Indonesia.

“Kami dari kuasa hukum terus mendampingi klien kami, sampai persoalan ini tuntas,” tegasnya lagi.

Dalam pembacaan putusan eksekusi dari PN Praya di lahan sengketa, sempat terjadi adu mulut antara pihak juru sita dengan keluarga Amaq Masrup. Namun setelah diberikan pemahaman, akhirnya tim juru sita berserta aparat membubarkan diri. (abi)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here