Kadis Kesehatan Lotim. FOTO SUPARDI/GERBANGINDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Angka Stunting di Lombok Timur mengalami penurun hingga 20,48 persen. Hal tersebut mengacu pada dari hasil elektronik-pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) yang dilakukan setiap tahunnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, H Fathurahman mengatakan, pada tahun 2019 dari 64,09 persen balita diukur dan diverifikasi, ditemukan sebanyak 26,10 persen menderita stunting. Kemudian pada tahun 2020, dari 85,24 persen balita diukur dan diverifikasi, ditemukan sebanyak 20,59 persen yang mengalami stunting.

“Nah, Mei 2021 dari sebanyak 125.394 orang atau sekitar 88,57 persen balita diukur dan diverifikasi, ditemukan sebanyak 20,48 persen balita menderita stunting. Kasus setunting ini membutuhkan komitmen semua pihak, dari Pemda hingga Pemdes. Sehingga kami setiap tahunnya melakukan rembuk setunting. Ini tahun ketiga kita melakukannya untuk menguatkan kembali komitmen kita dalam penanganan Stunting,” ujar Fathurrahman disela acara Rembuk Setunting, Kamis (24/6).

Kata dia, berdasarkan data riset kesehatan dasar yang dilakukan lima tahun sekali pada 2018 lalu, angka Stunting di Lotim lebih tinggi dari angka Provinsi dan Nasional. Sehingga penanganan Stunting di Lotim dibutuhkan atensi semua pihak.

Fathurrahman menjelaskan, dampak dari Stunting menyebabkan terganggunya kognitif anak yang berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak yang berdampak pada kualitas terhadap sumberdaya manusia.

“Nah nanti dewasanya kita khawatir anak-anak kita tidak mampu bersaing secara global. Inilah pentingnya penanganan Stunting ini, sampai Stunting ini menjadi program Nasional,” tutupnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here