
GerbangIndonesia, Lotim – Masyarakat Desa Songak Kecamatan Sakra, Lombok Timur, kembali menggelar Event Budaya Bejango Beliq yang ke-10. Event tersebut merupakan acara tahunan yang digelar setiap bulan Muharam, Safar dan Rabiul Awal.
Ketua Panitia, Rofil Khairudin menjelaskan, Bejango Beliq merupakan salah satu tradisi yang diwarisi oleh leluhur. Keberadaannya pun masih tetap eksis hingga saat ini. Acara tersebut dijadikan sebagai acara tahunan oleh Lembaga Adat Darma Jagat Songak.
Baca Juga: Test Drive Sirkuit Mandalika, Menko Airlangga: Luar Biasa, Sangat Indah!
“Selain sebagai atraksi budaya, juga menjadi penyempurna dari ritual yang dilaksanakan secara individu. Kegiatan itu digelar selama dua hari yakni tanggal 3 sampai 4 November 2021 yang erpusat di Masjid Tua Songak,” jelasnya di sela-sela acara, Kamis (4/11).
Kata dia, acara tersebut akan berjalan selama tiga bulan dengan menggelar beberapa ritual adat yakni, Bubur Beaq pada bulan Muharam, Bubur Putiq pada Safar, dan maulid adat jarig minyak Songak (membuat minyak Obat Tradisional asli desa Songak) dan terakhir Bejango.
“Warga Songak memiliki prinsip lempot pumbak, itu sebagai prinsip keilmuan,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Darma Jagat Songak, Mastur Sonsaka menambahkan, munculnya tradisi tersebut berawal dari pesan leluhur dan sudah secara turun temurun diyakini oleh warga setempat.
“Ketika ingin ketemu, memiliki hajat, atau sedang mengalami sakit berat, maka masyarakat diminta untuk datang ke Makam melalui masjid (Petilasan, Red),” bebernya.
Menurut cerita, Masjid Tua Desa Songak diyakini sebagai tempat tinggal sang leluhur. Sehingga bagi masyarakat Songak yang memiliki hajat diminta datang ke makam atau petilasan namun harus melalui Masjid Tua.
Lebih Lanjut Mastur menjelaskan, Event Bejango Beliq tersebut tidak hanya dilakukan sekali dalam setahun. Namun juga dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Namun pelakasaannya lebih bersifat pribadi.
Adapun yang dilakukan saat ini, merupakan acara tahunan yang dilakukan secara kelembagaan atau sebagai penyempurna dari pelaksanaan ritual yang dilaksanakan secara individu.
“Ini kami lakukan dalam rangka penyempurnaan dari yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat,” tutupnya.
Baca Juga: Strategi Pulihkan Ekonomi Pasca Pandemi, Begini Penjelasan Kadis Kominfotik NTB
Adapun ritual Tersebut di mulai dari Masjid Tua dengan membawa sesangan (hidangan/makanan) yang dinilai sebagai rukun dari prosesi tersebut. Pada acara tersebut masyarakat setempat memanjatkan doa selamat kepada sang Khaliq sebagai penguasa atas segalanya.
Setelah memanjatkan doa warga menikmati hidangan yang dibawanya. Setelah itu masyarkat membasuh muka disamping mimbar dengan dibimbing oleh tetua desa. Setelah prosesi di masjid, warga kemudian berjalan menuju makam dan melaksanakan ritual yang sama. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli






