
GerbangIndonesia, Lotim – Sejumlah nelayan di Lombok Timur mengeluhkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi Solar dan Pertalite. Pasalnya pasca kenaikan harga BBM banyak para nelayan yang jarang turun melaut.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Salah seorang nelayan asal Labuhan Haji Lotim, M Zainuddin misalnya. Dia mengungkapkan, pasca diumumkannya kenaikan harga BBM oleh pemerintah pusat, dirinya dan nelayan yang lainnya jarang turun melaut lantaran harga BBM yang dinilai terlalu mahal.
“Semua harga barang naik, dulu bisanya kita beli Rp 8 ribu per liter sekarang Rp 12 ribu. BBM naik, tapi ikan tak naik-naik,” Keluhnya saat ditemui di Pantai Labuhan Haji, Rabu (07/09).
Kata dia, dalam sepekan dia hanya bisa turun melaut hanya beberapa kali saja dan itu pun hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Biasanya kata dia, permalamnya menghabiskan BBM Pertalite sebanyak 5-6 liter. Sementara hasil tangkapan ikan yang didapatkan saat ini sangat minim.
“Kadang hasil yang kita dapatkan itu hanya dijual Rp 70 ribu, kadang Rp 60 ribu. Karena musim ini ikan juga jarang yang naik ditambah lagi dengan harga bahan pokok mahal, BBM mahal belum untuk biaya sehari-hari. Kami biasanya membeli eceran karena kami biasanya berutang dulu kalau tidak punya uang. Kalau kita beli di SPBU tidak bisa berutang, makanya kami sering beli eceran meski harganya lebih mahal,” ungkapnya.
Meski subsidi BBM telah dialihkan ke Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun menurutnya jumlah bantuan itu belum bisa memenuhi kebutuhan untuk melaut selama sepekan.
Dirinya berharap pemerintah bisa menstabilakan harga BBM seperti sediakala. Sebab harga yang sekarang ini dinilai sangat mahal, sehingga sangat memberatkan para nelayan.
Baca Juga:Geser Tiang Listrik Dikenai Rp 74 Juta Lebih, PLN UID Bali Angkat Bicara
“Itu yang membuat kami jarang turun karena harga yang terlalu mahal ini. Sekali melaut saja sudah berapa biaya yang keluar, sementara hasil yang kami dapatkan tidak seberapa,” pungkasnya. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli






