Kadus Gili Meno dan salah seorang pengusaha saat menjelaskan mengenai air bersih. FOTO ANGGER RICO/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Masyarakat dan pengusaha di Dusun Gili Meno Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang menolak jika PT. Gerbang NTB Emas (GNE) atau PT. Berkat Air Laut (BAL) distop operasionalnya oleh pemerintah. Pasalnya, mereka menilai masyarakat akan dirugikan karena kebutuhan air bersih tidak bisa terpenuhi, terlebih saat ini pariwisata di Meno tengah bangkit usai pandemi covid. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dusun (Kadus) Gili Meno Nasrun, Senin (19/9).

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

Menurutnya, baik masyarakat maupun pengusaha akan kelabakan jika nantinya pada 15 Oktober 2022 GNE distop oleh provinsi untuk menyuplai air di Gili Trawangan dan Gili Meno. Terlebih kebutuhan air terhadap 256 Kepala Keluarga (KK) di Meno tidak bisa hanya mencakup belasan kubik, sebab kebutuhan itu belum ditambah dengan 122 pengusaha yang saat ini tengah eksis kembali. Oleh sebab itu, dirinya meminta supaya PT BAL afiliasi GNE diberikan ruang untuk beroperasi menangani air paling tidak hingga PDAM betul-betul siap mendistribusikan air di pulau tersebut.

“Pada prinsipnya kita tidak menolak PDAM, tapi harus dipikirkan juga setidaknya ada jaringan yang sudah tersambung ke rumah warga. Kami mau gunakan PDAM, tapi tidak untuk TCN,” ungkapnya.

Penolakan terhadap TCN bukan tanpa alasan, sebelum surat Gubernur NTB untuk evaluasi GNE tersebar, PT. TCN sudah melakukan sosialisasi ke warga Gili Meno. Hanya saja, masyarakat langsung menolak perusahaan yang berafiliasi dengan PDAM tersebut lantaran untuk sumber air di Meno akan dilakukan pola pengeboran. Bahkan pihaknya membuat petisi penolakan TCN yang mana terdapat lima poin yaitu, menolak adanya infrastuktur TCN di Meno, menolak pengelolaan air dengan pola ngebor, menolak harga yang dirasa tinggi, menerima sepanjang instalasi terpasang pun sumber air diambil dari darat, dan terakhir jika tidak diindahkan maka Gili Meno akan keluar dari TWP Gili Matra.

“Karena di Meno ini yang ramai wilayah lautnya, kalau sekarang ada pengeboran oleh TCN percuma kita jadi wilayah konservasi. Yang jelas tetap warga ini menolak TCN,” katanya.

Sementara itu, Pengusaha asal Australia Abdul Azis mengaku merasa dirugikan akibat polemik air bersih di Gili Meno. Sebab solusi yang ditawarkan oleh PDAM yaitu dengan melakukab distribusi air dari darat ke laut dinilai omong kosong. Pria yang sudah mendirikan usaha Bungalow pun Restoran di Meno selama 12 tahun itu mengatakan jika air distop maka usahanya akan terancam demikian dengan para karyawan yang merupakan masyarakat lokal di Meno.

“Itu tidak bagus kalau BAL ditutup. Banyak pegawai yang akan kehilangan pekerjaan kalau air tidak ada, kalau menyalurkan air dari darat itu bukan solusi karena kebutuhan kita banyak. Saya harap Gubernur harus memikirkan kembali,” jelasnya.

“Kalau seperti ini terus bukan tidak mungkin kami akan pergi dari Indonesia dan menutup bisnis kami,” imbuhnya.

Di sisi lain, apa yang menjadi kekhawatiran Abdul Azis diamini oleh salah seorang pengusaha lokal di Gili Meno Bu Rahma. Dirinya menegaskan, jika PDAM sudah mempersiapkan segala jaringan tidak masalah kalau BAL distop oleh pemerintah. Namun ketika solusinya justru menggunakan pola lama yaitu mengambil air dari darat kemudian di distribusikan ke masyarakat dia merasa akan lebih mahal harganya. Dirinya meminta solusi yang tidak merugikan pengusaha dan masyarakat, yang mana itu pemasangan pipa PDAM secara komplit terlebih dulu.

“Ya tidak setuju kalau belum ada pipanya masuk ke sini. Sangat rugi ini namanya kita dipersulit kalau belum ada pipa terus air ndak ada,” ucapnya.(iko)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here