Kain tenun produk UMKM Desa Peringgasela Lotim. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak hanya berimbas pada kenaikan harga bahan pokok, namun juga berimbas pada kenaikan harga sejumlah produk UMKM. Salah satunya produk kain tenun Peringgasela, Lotim.

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

Salah seorang Pelaku UMKM Kain tenun Desa Peringgasela, M Maliki menyampaikan, kenaikan harga BBM ini berimbas terhadap kenaikan harga bahan baku dan kos kerja pembuatan kain tenun. Dari itu, pihaknya harus menaikkan harga kain tenun dari sebelumnya.

“Kalau tidak dinaikkan kita juga yang rugi. Pembelian juga sempat menanyakan kenapa bisa naik, tapi setelah kita jelaskan mereka jadi paham,” kata Maliki saat ditemui di rumahnya, Kamis (20/10).

Disebutkan, kost kerja sekarang ini dari Rp 170 ribu sampai Rp 200 ribu perorang untuk satu kain tenun. Sementara kost kerja sebelumnya hanya Rp 130 perkain.

Selain kenaikan kost kerja, harga bahan baku seperti benang juga naik menjadi Rp 4 ribu pergrenteng dari harga sebelumnya Rp 3 ribu pergrenteng. Sementara untuk 1 lembar kain tenun menghabiskan 50 grenteng benang.

“Selain itu sekarang harga benang ini juga beda-beda lain warna lain harganya meskipun satu merk. Kalau dulu sama saja harganya. Yang paling mahal itu warna hijau. Kalau kita lihat memang kenaikannya cuman Rp 1000 pergrenteng, tapi kalau kali banyak sudah berapa kenaikannya,” bebernya.

Sedang harga kain tenun saat ini dijual mulai dari harga Rp 450 ribu sampai Rp 1 juta perkain. Tergantung model dan motif. Dimana harga sebelumnya mulai dari Rp 350 ribu perkainnya.

Diakuinya pula, kenaikan harga BBM ini juga berdampak pada pembeli. Dimana pasca Covid-19 ditambah kenaikan harga BBM, pembeli kain tenun tidak begitu ramai seperti sebelumnya.

“Kalau saya bilang tidak ada pembeli, tetap ada saja yang beli. Tapi tidak begitu ramai seperti dulu,” katanya.

Hasil kerajinan kain tenun selain dipasarkan di pasar lokal, kerajinan kain tenun Peringgasela ini juga sudah menembus pasar internasional. Seperti Amerika, Jepang dan beberapa negara lainnya.

Maliki juga mengaku saat ini agak kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Tidak seperti sebelumnya. Dimana bahan bakunya langsung didroping oleh perusahaan, namun sekarang ia harus pergi sendiri untuk mencari bahan baku.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Kita harap Pemda Lotim dalam hal ini Dinas Perindustrian bisa menyiapkan kami bahan baku, agar kami tidak lelah cari bahan kesana kemari, ” pungkasnya . (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here