GerbangIndonesia, Lotim – Dinas Pariwisata Lombok Timur menerapkan sistem buka tutup sejumlah wisata, khususnya non pendakian. Hal itu dilakukan karena cuaca ekstrim belakangan ini kerap terjadi di Lombok Timur.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Iswan Rahmadi menyampaikan bahwa destinasi wisata yang ada di sekitar aliran sungai khususnya di daerah utara saat ini memakai sistem tutup buka.
“Sebenarnya wisata di jalur sungai itu paling banyak di bawah naungan TNGR. dan TNGR juga sudah menutupnya. Kami juga begitu, tapi kami tutup buka saja, kalau cuaca ekstrim kami tutup kalau sudah baik dibuka kembali,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis (17/11).
Adapun destinasi wisata yang diwaspadai ialah destinasi wisata Joben, Timba Nuh dan sungai mencerit, mengingat wisata-wisata ini berada di aliran sungai. Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim juga saat ini juga telah menetapkan status waspada bencana di Lombok Timur. Sehingga diharapkan bagi para wisatawan dan masyarakat yang tinggal di daerah jalur sungai untuk tetap waspada terhadap bencana.
Untuk mengantisipasi adanya korban jiwa, saat ini Dispar Lombok Timur telah meneurunkan sejumlah tim untuk memantau situasi di destinasi-destinasi wisata yang berada di dekat aliran sungai dan destinasi lainnya.
“Destinasi yang paling kita khawatirkan itu wisata Joben karena berada di aliran sungai. Kalau wisata pantai Alhamdulillah masih aman curah hujan utara yang kami khawatirkan,” imbuhnya.
Penerapan sistem buka tutup di sejumlah destinasi wisata ini dilakukan, mengingat di sekitar wisata tersebut banyak para pedagang dan UMKM yang berjualan sehingga jika ditutup total akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat.
Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB
“Kalau kita tutup total kasihan mereka yang berjualan di sana, makanya kita pakai sistem buka tutup saja, nanti ada tim kami yang memantau perkembangan situasi ini,” pungkasnya. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli