Sekda Lombok Timur, H M Juaini Taufiq. Saat menerima TIM USAID/BHA. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Sebagian besar kesejahteraan masyarakat Lombok Timur bersumber dari sektor pertanian. Untuk itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur jauh-jauh hari sudah mengantisipasi dampak dari bencana tersebut dengan menggelar diskusi bersama TIM USAID/BHA.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Disebut Bakal Punya Kekuatan Besar Jika Didampingi Sosok Ini di Pilpres 2024

Sekretaris Daerah Lombok Timur, HM Juaini Taufiq menyebutkan, kunjungan Tim USAID/BHA untuk mendiskusikan strategi dan keberlanjutan Sistem Kesiapsiagaan Pertanian dan Bencana (SKPB) yang telah diluncurkan 21 Februari 2023 lalu.

“Mitigasi bencana ini sangat penting bagi masyarakat Lombok Timur, karena sebagian besar kesejahteraan masyarakat Lombok Timur sebagian besar masih bertumpu dari sektor pertanian,” ungkapnya, Jumat (09/06).

Hadirnya program SKPB ini kata Sekda, salah satunya bertujuan untuk menghadirkan inovasi untuk membantu mengurangi dampak atau mitigasi bencana di sektor pertanian. Sehingga hal ini dinilai sangat besar manfaatnya.

SKPB telah diuji coba di sejumlah desa dengan desa Jurit, Seruni Mumbul, dan Pringgabaya utara yang melibatkan kelompok tani.

“Kami sudah meminta OPD terkait dan para penyuluh agar meneruskan informasi terkait pemanfaatan aplikasi ini. Kami juga berharap semua desa dapat memanfaatkannya secara mandiri,” ujarnya.

Menurutnya dengan kemudahan teknologi komunikasi dan informasi, serta manfaat yang diperoleh, ia meyakini bahwa para petani busa memanfaatkan aplikasi tersebut lebih luas.

Diakuinya sumberdaya manusia petani yang bervariasi menjadi salah satu tantangan. Akan tetapi tantangan sesungguhnya menurutnya adalah kepatuhan petani terhadap sumber-sumber informasi yang telah tersedia di aplikasi itu sendiri.

“Keberhasilan sistem ini perlu disebarluaskan secara masif, misalnya melalui media,” tegasnya.

SKPB ini lanjut Sekda, sudah diimplementasikan di sejumlah desa. Diantaranya dalam bentuk pertanian konservasi dengan memperkenalkan beberapa metode atau teknik bertanam, seperti konsep pertanian organik.

Dicontohkan petani di Desa Jurit yang bertanam jagung berhasil meningkatkan produksi dan produktivitasnya dari semula satu ton menjadi 7 ton. Selain itu dengan mengetahui prediksi cuaca serta curah hujan, petani dapat menentukan komoditas yang cocok untuk ditanam, termasuk pengendalian hama dan lainnya.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Disebut Bakal Punya Kekuatan Besar Jika Didampingi Sosok Ini di Pilpres 2024

Tim USAID/BHA juga akan melakukan kunjungan untuk meninjau pelaksanaan SKPB ke desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya sebagai desa program. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here