Managemen PT. Autore Pearl Culture, kepada sejumlah media di Autore Pearl Farm and Showroom Lombok Utara, Kamis (30/01/2025). FOTO LALU HABIB FADLI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lombok Utara – PT. Autore Pearl Culture keberadaan Blok D kawasan budidaya mutiara di perairan Segui, Desa Sekaroh, Lombok Timur sangat urgent. Hal ini diungkapkan Presiden Direktur PT. Autore Pearl Culture, Francesco Bruno kepada media di Autore Pearl Farm and Showroom Lombok Utara, Kamis (30/01/2025).

Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen

Francesco menegaskan bahwa titik D adalah hak PT. Autore Pearl Culture berdasarkan izin yang dimiliki.

“Ini bukan soal persaingan bisnis. Teluk ini adalah area terlindung, dan jika Blok D hilang, kami harus angkat kaki. Saya sudah 27 tahun di Indonesia, dan kami akan mempertahankan Blok D untuk PT. Autore sesuai aturan yang berlaku. Ini adalah titik penting bagi keberlangsungan usaha kami,” tegasnya.

Mr. Ceko sapaannya menjelaskan bahwa PT. Autore Pearl Culture memiliki lokasi budidaya di beberapa daerah, termasuk di Lotim, Sumbawa, KLU, dan Sekotong. Dalam rapat terakhir yang diadakan di Denpasar yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan Bali-Nusra, pihak PT. Autore Pearl Culture dinyatakan telah memenuhi semua persyaratan dokumen. Sementara salah satu perusahaan pengembang pariwisata di kawasan tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat.

“Kami diminta untuk menandatangani kesepakatan, tetapi pihak lain (perusahaan pengembang pariwisata, Red) menolak. Kami sebenarnya bersedia mencari solusi win-win solution, tetapi situasi ini menjadi semakin kompleks karena perubahan aturan yang mendadak,” ungkapnya.

Francesco juga menekankan bahwa keberhasilan budidaya mutiara sangat bergantung pada kebersihan lingkungan dan struktur ekosistem yang mendukung.

“Harus bersih. Jika aktivitas manusia terlalu banyak di sekitar area budidaya, itu bisa memengaruhi kualitas mutiara yang dihasilkan. Kami selalu berusaha memastikan lingkungan tetap terjaga agar produksi mutiara optimal,” tambahnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, PT. Autore Pearl Culture tetap berkomitmen untuk meningkatkan produksi mutiara berkualitas tinggi dan mempertahankan Lombok sebagai salah satu pusat budidaya mutiara terbaik di dunia.

Sementara Kuasa Hukum PT. Autore Pearl Culture, Donal Fariz, S.H., M.H., juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan dalam rantai produksi mutiara.

“Budidaya mutiara sangat bergantung pada kebersihan lingkungan dan ekosistem laut yang sehat. Tidak mungkin menghasilkan mutiara berkualitas tinggi jika lingkungannya tercemar. Oleh karena itu, kami berupaya menjaga kelestarian pantai dan laut, serta memastikan bahwa budidaya ini tidak merusak ekosistem,” jelas Donal.

Selain itu, PT. Autore Pearl Culture juga memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat lokal dengan mempekerjakan lebih dari 450 tenaga kerja tetap. Mayoritas berasal dari wilayah sekitar.

“Ini membuktikan bahwa kehadiran PT. Autore tidak hanya berkontribusi pada produksi mutiara tetapi juga memberikan lapangan pekerjaan yang berkelanjutan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat,” tambah Donal.

Dalam tiga tahun terakhir kata Donal, PT. Autore Pearl Culture telah membayarkan pajak sebesar lebih dari Rp 49,5 miliar kepada pemerintah daerah serta memberikan bantuan sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp 4,5 miliar. Bantuan tersebut mencakup reboisasi, bantuan untuk penyandang disabilitas, serta bantuan darurat bagi masyarakat terdampak bencana alam.

Perusahaan juga berhasil mempertahankan operasionalnya selama pandemi COVID-19 tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), sesuatu yang jarang terjadi di sektor industri lainnya.

“Ketika banyak perusahaan melakukan PHK, PT. Autore tetap bertahan dan memastikan karyawan tetap bekerja. Ini adalah bukti nyata komitmen kami terhadap kesejahteraan pekerja,” kata Donal.

Secara global kata Donal, PT. Autore Pearl Culture merupakan bagian dari jaringan perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia, Australia, dan Selandia Baru sejak tahun 1991. Di Indonesia, perusahaan ini memiliki beberapa lokasi budidaya, termasuk di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan NTB sebagai wilayah produksi terbesar.

Dengan nilai ekspor mencapai Rp 120–150 miliar per tahun, PT. Autore Pearl Culture juga berkontribusi terhadap devisa negara. “Kami ingin menunjukkan bahwa Autore bukan hanya bisnis, tetapi juga mitra pembangunan ekonomi daerah dan nasional,” tutup Donal.

Dengan berbagai kontribusi yang telah diberikan, PT. Autore Pearl Culture berharap dapat terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengembangkan industri mutiara yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Direktur PT. Autore Pearl Culture, Bakri Razak menambahkan bahwa keberadaan PT. Autore Pearl Culture di lokasi budidaya saat ini merupakan hasil dari pengambilalihan lahan yang sebelumnya dikelola oleh dua perusahaan yang juga bergerak di bidang budidaya mutiara.

“Dulu lahan ini dikelola oleh PT. Paloma Agung dan PT. Mitra Nusra. Namun, sejak 2001-2005 operasional mereka sudah tidak efektif, sehingga Pemda mengarahkan PT. Autore Pearl Culture untuk memanfaatkan kawasan Blok D ini yang sudah tidak aktif sekaligus sebagai kompensasi titik koordinat yang belum bisa terealisasi wilayah tersebut. Kami awalnya mendapatkan lima titik koordinat, tetapi hanya dapat merealisasikan dua titik karena kendala dengan nelayan dan faktor lainnya” jelas Bakri.

Namun, pada tahun 2023, PT. Autore Pearl Culture mendapat undangan sosialisasi perubahan zonasi yang mengubah titik D menjadi kawasan pariwisata.

“Sebelumnya, kami tidak tahu bahwa akan ada perubahan ini. Padahal, sebelum sektor pariwisata berkembang di sini, kami sudah lebih dulu berada di lokasi tersebut. Kami mempertanyakan mengapa tiba-tiba area ini menjadi zona pariwisata, padahal kami sudah lebih dulu beroperasi di sana,” ujarnya.

Bakri juga menambahkan bahwa PT. Autore Pearl Culture selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar, termasuk membantu nelayan yang mengalami kesulitan di laut.

“Jika ada nelayan yang kehabisan bahan bakar atau mengalami kendala, kami siap membantu mereka. Kami ingin menunjukkan bahwa keberadaan kami tidak hanya untuk bisnis semata, tetapi juga untuk mendukung komunitas lokal,” tutupnya.

Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity

Meski menghadapi berbagai tantangan lanjut Bakri, PT. Autore Pearl Culture tetap berkomitmen untuk meningkatkan produksi mutiara berkualitas tinggi dan mempertahankan Lombok sebagai salah satu pusat budidaya mutiara terbaik di dunia. (*)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here