DEMA UIN Mataram saat melakukan kegiatan beberapa waktu lalu. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Mataram – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menyatakan keprihatinan mendalam terhadap dugaan kasus pelecehan seksual yang diduga melibatkan seorang dosen berinisial W. Kasus tersebut tidak hanya mencoreng nama baik institusi, tetapi juga mengancam rasa aman dan kenyamanan seluruh mahasiswa di lingkungan kampus.

Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen

“Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan kampus. UIN Mataram harus menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika. Kami menuntut pihak rektorat untuk segera mengambil langkah konkret, mengusut tuntas kasus ini, menjatuhkan sanksi tegas terhadap pelaku, serta memberikan perlindungan dan pendampingan maksimal bagi para korban,” ujar Presiden Mahasiswa UIN Mataram, Abed Aljabiri Adnan dalam rilis pers yang diterima media ini, Rabu (21/05/2025).

DEMA UIN Mataram juga mengajukan tiga tuntutan utama sebagai bentuk desakan terhadap pihak kampus, yakni, membentuk dan mengaktifkan secara maksimal Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS). Mengusut tuntas kasus pelecehan seksual dan memberikan sanksi tegas terhadap pelaku. Memberhentikan secara permanen dosen yang terbukti melakukan tindakan tidak senonoh dari lingkungan UIN Mataram.

“DEMA meyakini bahwa dengan langkah-langkah tersebut, UIN Mataram dapat membangun lingkungan akademik yang bebas dari kekerasan seksual dan menjunjung tinggi nilai moral serta etika pendidikan,” bebernya.

Sebagai bentuk solidaritas dan desakan keadilan, DEMA mengajak seluruh mahasiswa untuk bergabung dalam aksi damai yang akan dilaksanakan pada Kamis, 22 Mei 2025 pukul 09.00 WITA di depan gedung Rektorat UIN Mataram. Menurut informasi yang beredar, sebanyak tujuh mahasiswa menjadi korban dalam kasus ini. Modus yang digunakan oleh pelaku dinilai sangat memprihatinkan, yakni dengan berpura-pura menjadi sosok “Ayah” yang memberi perhatian, namun kemudian melakukan manipulasi dan dugaan pelecehan.

Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity

“Aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan seksual dan sebagai dorongan nyata kepada pihak kampus untuk segera bertindak tegas demi menciptakan ruang aman bagi semua mahasiswa,” pungkasnya.(iko)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here